<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog Jurig &#187; profile</title>
	<atom:link href="http://agusnews.wordpress.com/category/profile/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusnews.wordpress.com</link>
	<description>Sekedar Berbagi Kisah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Mar 2009 18:11:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='agusnews.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/2f7abb100648c149232bb0271ce475f1?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Blog Jurig &#187; profile</title>
		<link>http://agusnews.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://agusnews.wordpress.com/osd.xml" title="Blog Jurig" />
		<item>
		<title>Politik Pemilu, Nyaring Seperti Kentut</title>
		<link>http://agusnews.wordpress.com/2009/03/16/politik-pemilu-nyaring-seperti-kentut/</link>
		<comments>http://agusnews.wordpress.com/2009/03/16/politik-pemilu-nyaring-seperti-kentut/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 18:11:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnews.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Ia seorang ketua ranting PDIP yang setiap saat dibutuhkan oleh orang kampung di tempat tinggalnya. Sebagai ketua partai, ia tampak menjadi tokoh paling penting. Paling tidak kehadirannya dibutuhkan saat ada orang melahirkan, kematian, kerja bakti dan lain-lain. Selain tentunya menjawab masalah pemilu.
Seratus meter dari rumahnya, bangunan bengkel sekaligus difungsikan sebagai kantor partai. Ruang kerja sang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=81&subd=agusnews&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ia seorang ketua ranting PDIP yang setiap saat dibutuhkan oleh orang kampung di tempat tinggalnya. Sebagai ketua partai, ia tampak menjadi tokoh paling penting. Paling tidak kehadirannya dibutuhkan saat ada orang melahirkan, kematian, kerja bakti dan lain-lain. Selain tentunya menjawab masalah pemilu.<span id="more-81"></span></p>
<p>Seratus meter dari rumahnya, bangunan bengkel sekaligus difungsikan sebagai kantor partai. Ruang kerja sang ketua tidak lebih dari 4&#215;6 meter persegi. Sebuah lemari besi, meja kerja, dan kursi yang kulit pembungkusnya terkelupas di sana-sini memenuhi ruangan. Sebuah foto, Ketua Umum Megawati menggantung di dinding yang warna putihnya sudah agak kecoklatan. Foto lain, sang proklamator berada lebih tinggi dari foto Mega. Posisinya agak miring.</p>
<p>“Inilah kantor saya. Silahkan duduk,” ajak Ramli Sinaga saat penulis mengunjungi kantornya yang terletak di Jalan Terusan Suryani, Kampung Cibuntu, Bandung Kulon, Bandung, beberapa waktu lalu.</p>
<p>Saat itu, penulis mengunjunginya setelah pemilihan gubernur Jawa Barat baru saja selesai. Bekas atribut pemilihan masih memenuhi ruangan kerja dan rumah Ramli. Wajah Agum Gumelar-Numan Abdul Hakim yang terpampang di poster, tertumpuk di sudut ruang.</p>
<p>“Itu sisa yang tidak tersebar,” kata Ramli.</p>
<p>Pemilihan langsung gubernur Jawa Barat seperti menjadi mimpi buruk bagi Ramli. Pria perantau dari Medan ini masih lesu dengan pertandingan politik yang baru saja selesai. Usaha kerasnya tidak cukup menyukseskan pilihannya naik panggung.</p>
<p>“Ya, mau gimana lagi. Kita sekarang kerja lagi,” katanya.</p>
<p>Saat itu, tiga bulan menjelang pemilihan gubenur tanggal 13 April 2008, Ramli tidak melakukan kegiatan apapun. Kepastian calon dan embel-embel atribut belum diberikan partai.  Rencana sosialisasi pun tersendat.</p>
<p>“Kalau logistic tidak ada, susah untuk sosialisasi,” katanya.</p>
<p>Konsultan politik dari Partai Golkar, yang tidak mau disebut namanya dalam tulisan ini, mengatakan, persoalan sosialisasi dari mesin partai juga terhambat karena masalah logistik. Ia mengatakan, mesin partai menganggap keperluan logistic merupakan syarat mutlak untuk melakukan sosialisasi dan pemenangan pemilu.</p>
<p>“Yah..kami sudah memberikan materi dan segala hal pengetahuan, tapi kandas di mesin partai di wilayah bawah,” ujar laki-laki berusia 30 tahun yang sudah bekerja sebagai konsultan di berbagai kegiatan pemilu partai Golkar di Jawa Barat ini.</p>
<p>Situasi agak berbeda terjadi di tubuh PKS saat pertarungan politik gubernur tahun lalu di Jawa Barat. Mesin partai yang bergerak lewat jalur-jalur non konvensional, seperti pengajian, pertemuan di mushalla, masjid, penggunaan pesan pendek dan internet, mendukung kerja pencapaian panggung politik di Jawa Barat saat itu.</p>
<p>Pada pemilihan umum legislative tahun 2009, aturan pemilu yang berbeda pasca keputusan Mahkamah Konstitusi membikin masing-masing partai mengalami keruwetan konsolidasi. Termasuk PKS yang juga tidak semasif melakukan pengkondisian pemilih seperti pada pemilihan gubernur tahun lalu.</p>
<p>“Sekarang kami harus menyebar setiap kader yang mau jadi caleg, untuk sebanyak-banyaknya berbuat kebajikan. Partai tidak melakukan intervensi,” ujar Taufik Ridho, Ketua DPW PKS Jawa Barat, beberapa waktu lalu.</p>
<p>Soal sosialisasi pemilu kerap menjadi tema hangat partai menjelang pemilu. Hanya saja, kerja partai kerap spontanitas dan sporadis. Demikian pernyataan Prof. Asep Warlan Yusuf, pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Parahyangan Bandung.</p>
<p>“Selalu tidak ada proses rekrutmen dan pendidikan politik pada partai,” kata Asep.</p>
<p>Rizal mengakui hal ini. Masyarakat di Cibuntu hanya satu persen dari kelompok kelas bawah yang tersebar di Kota Bandung. Karakter kelas bawah yang kurang memiliki akses terhadap informasi menyebabkan proses transfer pendidikan itu seyogyanya dilakukan oleh kader partai. Tapi, Rizal, mengatakan, hal ini malah lepas dari kendalinya.</p>
<p>“Ketika kita mau ajak diskusi, selalu saja mentok karena kurang pengetahuan tentang politik,” katanya.</p>
<p>Ia mengatakan sebagai ketua ia tidak bisa jalan sendirian untuk melakoni sosialisasi. Semestinya anggota dan kader partai lain juga melakukannya. Namun, kualitas pengetahuan menjadi persoalan yang belum selesai. Ia mengatakan, minimalnya kader partai bisa menjelaskan misi dan visi partai serta program yang dibawa partai saat pemilu.</p>
<p>Soal yang sama dihadapi oleh kader dari partai lain di Bandung. Seorang kader dari Partai Golkar malah ekstrem untuk tidak melakukan sosialisasi dengan dialog. Melainkan cukup menempelkan atribut partai dan pergi. Kerja sporadic ini kerap dilakukannya setiap acara pemilu berlangsung.</p>
<p>“Saya hanya tahu menempelkan saja. Kalau sudah diajak ngomong atau ditanya lain-lain saya tidaktahu harus jawab apa,” katanya.</p>
<p>Di tempat lain di kawasan Astana Anyar, Bandung, kader partai di teriyaki maling. Saat itu tengah malam, kader partai itu sedang menempel beberapa atribut termasuk gambar caleg peserta pemilu 2009. Mengendap-endap bak maling, sang kader menyelinap ke balik halaman lalu menempelkan sebuah poster di dinding rumah yang baru saja di cat.</p>
<p>Pemilik rumah curiga oleh suara di halaman rumahnya. Sekelebat ia menyeruak ke luar rumah dan membawa sebilah alat tumpul, lalu berteriak; Maling! Si kader memang tidak tertangkap. Proses klarifikasi selesai di kantor partai bersangkutan.</p>
<p>Jauh sebelum kejadian ini, Rizal mengomentari proses politik di Indonesia seperti suara kentut. Nyaring di tengah perayaan pemilu, setelah itu hilang begitu saja.</p>
<p>“Harusnya ada pendidikan politik terus-menerus. Saya harap ada perubahan di system partai,” katanya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnews.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnews.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnews.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnews.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnews.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnews.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnews.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnews.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnews.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnews.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=81&subd=agusnews&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnews.wordpress.com/2009/03/16/politik-pemilu-nyaring-seperti-kentut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd937e35d250de17233505f38b42fac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Labour Campaign Goes to Campus!</title>
		<link>http://agusnews.wordpress.com/2008/02/06/labour-campaign-goes-to-campus/</link>
		<comments>http://agusnews.wordpress.com/2008/02/06/labour-campaign-goes-to-campus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 13:31:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnews.wordpress.com/2008/02/06/labour-campaign-goes-to-campus/</guid>
		<description><![CDATA[
APAKAH seseorang harus menunggu pemutusan hubungan kerja (PHK) terlebih dahulu, baru mau memahami hak-haknya sebagai buruh? Bisa jadi pertanyaan ini betul. Orang belum tahu rasanya sakit, jika belum mengalami luka. 
Kadang, pertanyaan itu pun tidak pandang bulu. Ada sebagian yang bisa terselamatkan ketika mereka memiliki rasa ingin tahu dan belajar sedari dini. Tetapi, ada juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=39&subd=agusnews&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h1><span class="hurufkecil"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">APAKAH seseorang harus menunggu pemutusan hubungan kerja (PHK) terlebih dahulu, baru mau memahami hak-haknya sebagai buruh? Bisa jadi pertanyaan ini betul. Orang belum tahu rasanya sakit, jika belum mengalami luka. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></h1>
<p><span id="more-39"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kadang, pertanyaan itu pun tidak pandang bulu. Ada sebagian yang bisa terselamatkan ketika mereka memiliki rasa ingin tahu dan belajar sedari dini. Tetapi, ada juga yang mesti menelan pil pahit karena di sebuah pagi yang cerah, tiba-tiba kabar PHK datang dari kantornya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Apalagi, kondisi di tengah pasar kerja yang fleksibel seperti sekarang ini. Para pendukung fleksibilitas pasar kerja akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Karena terjadi pemerataan kesempatan kerja yang menciptakan pendapatan dan pengurangan tingkat kemiskinan, fleksibilitas tenaga kerja menghasilkan macam-macam kesempatan kerja seperti, kerja kontrak, paruh waktu, dan kontrak pendek.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Namun, kritik bagi fleksibilitas, pedoman itu menghasilkan kondisi pekerja murah, tidak ada jaminan sosial, dan kondisi serba tidak menguntungkan lainnya bagi para pekerja. Di Indonesia, akibat tidak sebandingnya lapangan kerja, banyak orang yang mau saja dibayar rendah daripada menganggur. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Peneliti dari Yayasan AKATIGA, Maria Dona Dewi Puspitaningrum, mengatakan, karena fleksibilitas itu orang pada akhirnya mudah direkrut dan sekaligus mudah di-PHK. Fleksibilitas bisa terjadi di tempat kerja atau tenaga kerja. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;UU kita menyesuaikan kondisi kapitalisme itu sendiri, dan sudah dipelajari sejak awal 1990-an. Ciri-cirinya pasar tenaga kerja banyak, mesin makin mudah dioperasikan banyak orang, dan perusahaan ingin menekan persoalan-persoalan buruh,&#8221; kata dia.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Persoalannya, banyak kaum yang lahir dari kampus dengan basis intelektualisme, ternyata juga belum sepenuhnya menyadari hal ini. Mereka yang telah bekerja sambil kuliah, tidak bisa berbuat apa-apa karena ketidaktahuan tentang aturan. Atau bisa jadi, kata Dona, karena pasar tenaga kerja dengan kesempatan tidak seimbang sehingga orang mau menerima pekerjaan walau dibayar murah. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Berikut ini, petikan wawancara Kampus dengan Dona yang berlangsung minggu lalu di Yayasan AKATIGA, Jln. Tubagus Ismail II No. 2 Bandung</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bagaimana sebenarnya praktik fleksibilitas itu?</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Itu terjadi karena situasi ekonomi sedang tidak stabil dan salah satu yang diusahakan oleh pengusaha adalah merasionalisasi tenaga kerja. Ada istilahnya multi-skill. Jadi, biasanya dalam delapan jam pegang satu alat, sekarang bisa tiga alat. Alternatif lain, bisa kurang dari delapan jam kerja tetapi dibagi. Strategi ini dilakukan untuk melakukan ongkos bayar buruh. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ambil contoh dalam kasus magang. Seorang yang ikut magang berasal dari karakter yang berbeda-beda. Ada yang dari kelas bawah atau menengah. Tetapi, biasanya orang yang direkrut untuk peserta magang itu adalah dari kelas menengah karena tidak terlalu memikirkan biaya hidup. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Soal magang ini tidak diatur secara detail dalam UU No. 13/2003, maka kemudian diatur dalam kontrak individu. Jenis kontrak seperti ini memiliki banyak varian. Hal itulah yang harus dicari, seberapa banyak variasinya dan mereka bisa bermain di situ. Kalau kedua-duanya setuju, tidak ada masalah. Sementara itu, dalam kasus paruh waktu, itu juga berasal dari niat perusahaan untuk melakukan penghematan biaya produksi. Menggunakan pekerja dengan sistem ini juga sebenarnya tidak ada aturan yang detail. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kenapa banyak sekali anak muda yang mengisi posisi-posisi itu meski mendapat upah rendah?</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mereka kan lebih banyak mengejar untuk kebutuhan cum-nya. Oleh karena itu, mereka pikir semakin banyak pengalaman akan bermanfaat di masa mereka pascakuliah. Kalau betul-betul dihargai, itu bisa jadi imbalan bagi si pekerja. Tetapi kalau sebaliknya, magang bekerja seperti buruh-buruh lainnya. Itulah yang harus dikritisi. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kalau kita melihat makna kerja dalam konteks itu adalah mendapat pengetahuan dan bukan sekadar upah, tidak terlalu masalah. Jika suatu hari menjadi profesional dengan penambahan skill. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tetapi, persoalannya buruh-buruh itu kan skill-nya tidak malah bertambah. Lebih banyak mengeluarkan tenaga dengan upah rendah. Jadi bukan multi-skill, tetapi multi-killed. Oleh karena itu, mahasiswa yang magang itu harus benar-benar paham, apakah ia berhasil menambah pengetahuannya atau malah total menjual jasanya di tempat kerjanya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bagaimana pemahaman masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan?</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tren umum, pekerja semakin sadar dengan hak-haknya. Tetapi dengan mereka makin sadar, karena ada fleksibilitas itu, keamanan kerja jadi tidak ada. Karena yang dicari adalah keamanan kerja, orang lebih mempertahankan pekerjaan daripada mempertahankan hak-haknya. Fleksibilitas menghasilkan upaya menghancurkan kolektivitas untuk memperjuangkan hak-haknya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bagaimana dengan ikatan kerja secara &#8220;kekeluargaan&#8221; yang ada di beberapa perusahaan?</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nah, itu memang sudah berlangsung dari dulu. Di tempat kerja itu, bukan hanya hubungan kerja, tetapi juga ada hubungan sosial. Realitas kepatuhan dipakai dengan beragam cara. Hubungan sosial terjadi mekanik, yang sengaja diciptakan, sehingga tidak terjadi kolektivitas. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mengutip Romo Herry, dalam dunia homo economicus yang sudah merajai segala hal, faktor-faktor hubungan sosial itu hanya dihargai jika menghasilkan keuntungan. Itu diciptakan oleh si pemilik kerja. Tidak ada orang yang keluar dari tempat kerja disebut dengan &#8220;seleksi alam&#8221;. Pendidikan tidak menjadi faktor utama penentu rekrutmen. Asalkan bisa berhubungan dengan mesin dengan mudah maka tidak jadi masalah. Sampai saat ini yang penting adalah mesin. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Apakah pemahaman kita terhadap hak-hak perburuhan sengaja dihalang-halangi?</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sebelum Orde Baru, kolektivitas buruh kuat dan bisa masuk ke wilayah-wilayah politis seperti isu-isu pemerintahan. Setelah masuk pergolakan politik era 1960-an, kan banyak serikat yang dilibas. Nah, ada dugaan hal itu menyebabkan perguruan tinggi tidak mau masuk dalam UU Perburuhan karena dianggap ada unsur politis. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Masih ingat tentang keterlibatan perguruan tinggi dalam pembahasan revisi UU No. 13/2003? Mereka sebenarnya tidak bekerja atas nama perguruan tinggi, tetapi akademisi yang secara personal diminta untuk meneliti saja. Hal ini karena banyak perguruan tinggi menggangap soal perburuhan memiliki nilai politis yang tinggi, sedangkan perguruan tinggi menganggap dirinya netral. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kenapa dalam kurikulum pendidikan, tidak ikut disosialisasikan aturan perburuhan?</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Adalah cita-cita serikat buruh untuk memasukkan itu ke dalam dunia pendidikan supaya suatu hari mereka bisa mengadvokasi dirinya sendiri. Tetapi, saya tidak tahu kendalanya. Namun, ada dugaan isu perburuhan dibuat stigma negatif. Isu perburuhan disebut identik dengan semangat memberontak atau mengganggu stabilitas. Itu adalah stigma yang salah. Tetapi, di dunia di mana pemerintahnya mengusung neoliberal, itu adalah hal yang diusung. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bagaimana jika itu dimasukkan dalam mata kuliah umum?</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Di satu sisi, saya melihat gambar apatisme. Karena mereka kelas menengah yang sudah terjamin secara ekonomi dari orang tuanya, dan belum merasakan persaingan di pasar kerja. Kecuali diusung oleh teman-teman mahasiswa sendiri. Seharusnya disampaikan oleh mahasiswa sendiri. Ternyata mahasiswa yang menyampaikan isu itu malah mendapat sikap apatis teman-temannya. &#8220;Lah itu kan masalah nanti, bukan masalah gue sekarang&#8221;, pendapat umum mahasiswa kan seperti itu.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Menurut saya, tidak perlu mekanik dimasukkan dalam kurikulum. Saya tidak setuju dibuat kaku dalam kurikulum karena akan mental dengan sendirinya. Jadi, mereka harus mendapatkan kondisi marginal, ditindas, dan lain-lain. Mereka belum mengalami sendiri bagaimana rasanya ter-PHK atau mencari kerja tetapi ditolak? Nah, itu harus dimasukkan oleh teman-temannya sendiri. Agak beda jika mereka merasakan simpati ketika berbicara dengan buruh-buruh. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kalau begitu, buruh-buruh intelek dari kampus itu akan tetap sama. Mereka harus sakit di-PHK dulu baru mau memahami hak-hak perburuhannya. Menurut Anda?</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kecuali ada program live-in atau tinggal di pabrik. Jadi, kuliah kerja nyata (KKN) itu jangan cuma di desa, tetapi juga bisa di pabrik dengan memosisikan si mahasiswa sebagai pekerja beneran. Dan kalau dengan mata kuliah, bukan dengan mata kuliah hukum perburuhan. Karena kalau di fakultas hukum, semuanya diposisikan sebagaimana hukum. Mahasiswa yang mempelajarinya memosisikan diri sebagai manajer. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Jadi belajar mencari celah kelemahan UU?</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Itu pendidikan yang salah atau bagaimana?</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Memang, hanya memperkenalkan normatif dan bukan mencari akar masalah manusia. Yang ada, hukum dibutuhkan sepanjang ada kekuasaan yang ingin didirikan. Pelajaran sosiologi hukum itu juga masih banyak menganut paradigma positivis, di mana dominasi selalu terjadi. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bagaimana kalau dibuat &#8220;Labour Campaign Goes to Campus&#8221; saja? </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Hahahahaha. ***</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dimuat di Pikiran Rakyat, <strike>6 Februari 2008,  </strike>24 Januari 2008<br />
</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusnews.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusnews.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnews.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnews.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnews.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnews.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnews.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnews.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnews.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnews.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnews.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnews.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=39&subd=agusnews&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnews.wordpress.com/2008/02/06/labour-campaign-goes-to-campus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd937e35d250de17233505f38b42fac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkelana Membuat Kompos</title>
		<link>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/35/</link>
		<comments>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/35/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2007 06:03:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/35/</guid>
		<description><![CDATA[ PADA 20 Januari 1961, Kennedy diambil sumpahnya sebagai Presiden AS ke-35 dan menjadi presiden termuda dalam sejarah AS. Dalam pengangkatannya sebagai presiden, Kennedy menyampaikan pidatonya yang terkenal, yang di antaranya berbunyi, &#8220;Jangan tanyakan apa yang telah dilakukan negara untuk dirimu, tetapi tanyakan apa yang telah kamu lakukan untuk negaramu.&#8221;
 Dua puluh tahun kemudian, tepatnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=35&subd=agusnews&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font> PADA 20 Januari 1961, Kennedy diambil sumpahnya sebagai Presiden AS ke-35 dan menjadi presiden termuda dalam sejarah AS. Dalam pengangkatannya sebagai presiden, Kennedy menyampaikan pidatonya yang terkenal, yang di antaranya berbunyi, &#8220;Jangan tanyakan apa yang telah dilakukan negara untuk dirimu, tetapi tanyakan apa yang telah kamu lakukan untuk negaramu.&#8221;</font></p>
<p><span id="more-35"></span><font> Dua puluh tahun kemudian, tepatnya 20 Januari 1981, seorang anak bernama <strong>Arifiyanto Said</strong> lahir di Klaten Jawa Tengah. Ia anak yang lahir dari kalangan keluarga yang cukup unik. Bapaknya senang mengumpulkan barang bekas.</font></p>
<p><font> Arif muda sering memerhatikan kebiasaan neneknya yang mengumpulkan rongsokan. Saat itu, ia melihat bagaimana perjuangan neneknya dengan barang bekas berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang yang lebih tinggi.<br />
</font></p>
<p><font> Lalu ia memerhatikan pula kebiasaan ayahnya yang gemar mengumpulkan barang bekas di gudang rumah. Malah ayahnya pernah berucap bahwa besi-besi yang menopang fondasi rumahnya berasal dari besi bekas yang berserakan di jalan.<br />
</font></p>
<p><font> Pidato Kennedy memang bukan topik utama saat kelahiran Arifiyanto. Akan tetapi, semangat dalam pidato Kennedy sepertinya telah merasuk ke benak Arifiyanto sejak ia lahir. Semangat itu lahir karena berkaca pada kebiasaan keluarga besarnya yang mengganggap sesuatu benda bekas bukan sebagai sampah, tetapi sebagai barang itu masih memiliki nilai.<br />
</font></p>
<p><font> Barang bekas memiliki nilai ekonomis, tetapi barang bekas juga menjadi beban lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Ia menjadi bomerang bagi kehidupan manusia karena bisa menimbulkan bencana.<br />
Misalnya, barang-barang sisa yang teronggok di pinggir jalan bisa menimbulkan bau dan pemandangan yang tidak nyaman. Barang-barang bersifat basah, seperti sisa makanan, membuat bau, sedangkan yang bersifat kering, seperti, kertas, plastik, kaleng, mengganggu pandangan mata ketika di jalan.<br />
</font></p>
<p><font> Arifiyanto muda memutuskan berkelana. Ketika kuliah baru memasuki semester 4, ia mulai perjalanan ke Leuwigajah, Kota Cimahi. Ia kesal karena lembah yang tadinya indah itu harus menjadi korban sampah orang kota. Kekesalan itu makin jadi ketika dua tahun setelah kunjungannya, tempat pembuangan akhir (TPA) Leuwigajah longsor dan mengubur orang.<br />
</font></p>
<p><font> Keinginan mempelajari tentang pengelolaan sampah membawanya mendatangi sebuah keluarga di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Lalu ia teruskan ke Solo Baru, Sukaharjo, Jawa Tengah. Di tempat ini ia magang memilah-milah sampah plastik.<br />
</font></p>
<p><font> Selama jalan-jalan ini praktis urusan kampus keteteran. Akan tetapi, itu pilihan sadar yang sudah diambil Arifiyanto. Orang tuanya juga hanya berkomentar, do it what you like (lakukan apa yang kamu mau lakukan-red.).<br />
</font></p>
<p><font> &#8220;Mungkin karena bawaan dari keluarga juga sehingga aku mulai akrab dengan persoalan-persoalan sampah,&#8221; katanya.<br />
</font></p>
<p><font> Keakrabannya dengan sampah lantas membawanya terbang ke negeri Jerman, pada tahun 2004. Dengan disponsori oleh perusahaan Bayer, Jerman, ia jalan-jalan sekaligus mengamati proses pengelolaan lingkungan dan sampah di Sungai Rhein. Ia habiskan waktu seminggu di negeri yang pernah terbelah hancur karena perang itu.<br />
</font></p>
<p><font> Pulang dari Jerman, Arifiyanto punya inisiatif untuk mempraktikkan ilmunya di Kota Bandung. Ia memulai projek pertamanya, di Cibeunying Kaler, pada tahun 2004. Ia berinisiatif mengajak warga untuk mengadakan sebuah kegiatan pengolahan sampah rumah tangga. Sejak 2004, ia mulai bergerilya mencari tempat yang mau menerima ide pengelolaan sampah.<br />
</font></p>
<p><font> Kampus kali ini bertemu dengan pemuda berambut keriting berkacamata minus ini di sebuah kamar kos yang lumayan lebar walaupun ada bagian yang kena rembesan air hujan. Letaknya berada di pusat kota, tepatnya di Jln. Siti Munigar, Astanaanyar, Kota Bandung. Berikut petikan obrolan Kampus dengannya.<br />
Ito (sapaan akrab Arifiyanto).</font></p>
<p><font><strong>Apa yang akan dilakukan untuk Hari Lingkungan Hidup tahun ini?</strong><br />
Aku anggap tiap hari adalah hari lingkungan hidup. Begitu pula dengan peringatan hari-hari lainnya. Setiap hari kita harusnya mengelola lingkungan agar lebih sehat dan nyaman. </font></p>
<p><font><br />
<strong> Karena itu, apa yang sedang kamu lakukan saat ini?</strong><br />
Masih berkaitan dengan sampah. Soalnya, ini kan sudah bawaan dari masih bayi. Kamu pernah melihat pengelolaan sampah di Jerman. Apakah cara yang sama bisa diterapkan di Indonesia?<br />
Jerman bagus, tetapi masih jauh untuk bisa diterapkan di Indonesia. Ada kendala yang substansial sehingga sulit untuk diterapkan. Salah satunya instrumen hukum kita, terutama dalam penegakan hukumnya. Misalnya, jumlah penduduk dengan jumlah penegak hukum tidak proporsional. </font></p>
<p><font><br />
<strong> Menurut kamu, sebenarnya seperti apa konsep yang tepat dalam pengelolan sampah kita?</strong><br />
Jadi, konsepnya harus terdesentralisasi. Konsepnya dengan pengelolaan di lingkungan rumah tangga. Ini bisa mengurangi beban TPA.</font></p>
<p><font><br />
<strong> Omong-omong, kamu sering pindah kos dan di tempat kamu tinggal, lalu kamu buat program pengelolaan sampah. Apa saja yang kamu buat?</strong><br />
Pengomposan. Konsep ini berhasil di RT 4 RW 1 Kelurahan Nyengseret, Astananyar, Kota Bandung. Tapi, satu bulan terakhir itu berhenti. Alasannya, mulai banyak warga yang protes karena baunya. </font></p>
<p><font><br />
<strong> Kalau begitu, kamu sering berhadapan dengan warga yang tidak terima dengan konsepmu?</strong><br />
Berhadapan sih tidak. Tapi itu risiko yang bisa terjadi dan saya pikir kita bisa menghadapinya dengan dialog.<br />
</font></p>
<p><font>Dalam pandangan orang-orang, anak muda adalah generasi dinamis yang lebih suka senang-senang. Tapi itu tidak semua. Ito adalah salah satu kawan Kampus yang mencurahkan perhatiannya pada kegiatan sosial kemasyarakatan.<br />
</font></p>
<p><font> Ito sendiri merasa apa yang dilakukan bukan untuk mencari pujian. Akan tetapi, memang bukan pujian yang datang kepadanya, namun pengakuan sebagai generasi yang kreatif. Hal itu diakui oleh sekretaris RW 1 H. Zaenal Abidin dan Staf Bidang Lingkungan RW 1 H. Nandar.<br />
</font></p>
<p><font> Kedua orang paruh baya ini sama-sama mengakui jarang menemukan anak muda yang seperti itu. Dari sekian banyak generasi muda yang tinggal di RW 1, baru Ito yang mau bergulat dengan belatung dan air lindi yang panas.<br />
</font></p>
<p><font> Ito datang ke tiap daerah itu hanya dengan ilmu pengetahuan dan niat. Tidak ada uang satu karung untuk dibagi-bagikan sebagai modal program penyehatan lingkungan. Ia lebih sering mengadakan kegiatan itu berdasarkan swadaya masyarakat.</font></p>
<p><font><strong> Menurut kamu, apakah uang menjadi syarat utama keberhasilan programmu?</strong><br />
Aku tidak memungkiri uang itu perlu. Tapi itu bukan segala-galanya. Orang dilahirkan dengan akal. </font></p>
<p><font><br />
<strong> Tapi kalau sedang kesulitan dana bagaimana menanganinya?</strong><br />
Aku punya tim. Tim punya peran masing-masing untuk mencari bantuan. Tapi saya lebih sering mendapati keinginan swadaya masyarakat. Memang, sih kadang itu juga mentok.<br />
</font></p>
<p><font><strong>Tapi kamu optimis?</strong><br />
Ya! Hal penting adalah kita bisa menjaga napas kita agak tidak tersengal-sengal. Kegiatan seperti ini butuh waktu. ***</font></p>
<p>*Dimuat di Pikiran Rakyat, 7 juni 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusnews.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusnews.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnews.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnews.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnews.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnews.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnews.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnews.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnews.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnews.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnews.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnews.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=35&subd=agusnews&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/35/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd937e35d250de17233505f38b42fac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tumor, Sastra, dan Eksistensi</title>
		<link>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/tumor-sastra-dan-eksistensi/</link>
		<comments>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/tumor-sastra-dan-eksistensi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2007 05:54:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/tumor-sastra-dan-eksistensi/</guid>
		<description><![CDATA[ &#8220;SAYA belum berhenti menulis karena semakin banyak yang ingin kutulis. Saya menulis sebagai ruang untuk membangkitkan eksistensiku. Eksistensiku untuk mengubah dunia.&#8221;
- Asma Nadia -
  MATAHARI di hari Minggu (28/2) itu sangat terik menyelimuti kawasan Jln. Margonda Raya, Depok, Jawa Barat. Rasa penat bertambah dengan klakson kendaraan yang sambar-menyambar. Dari arah jalan, tiba-tiba muncul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=34&subd=agusnews&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font> &#8220;SAYA belum berhenti menulis karena semakin banyak yang ingin kutulis. Saya menulis sebagai ruang untuk membangkitkan eksistensiku. Eksistensiku untuk mengubah dunia.&#8221;<br />
- Asma Nadia -</font></p>
<p><span id="more-34"></span> <font> MATAHARI di hari Minggu (28/2) itu sangat terik menyelimuti kawasan Jln. Margonda Raya, Depok, Jawa Barat. Rasa penat bertambah dengan klakson kendaraan yang sambar-menyambar. Dari arah jalan, tiba-tiba muncul seorang perempuan yang diikuti empat orang anak kecil dan laki-laki dewasa. </font></p>
<p><font>&#8220;Aduh maaf Mas, saya telat ya. Tadi muter kendaraannya kejauhan,&#8221; ujar perempuan yang dikenal dengan nama Asma Nadia ini.<br />
</font></p>
<p><font> Terpikir, awalnya Asma lari terburu-buru lantaran telat dengan jadwal wawancara yang telah disepakati. Ternyata itu bukan satu-satunya sebab. Rombongan Asma yang terdiri dari anak-anaknya, keponakan, dan suami itu, yang buru-buru memasuki gedung toko buku salah yang terbesar di Indonesia, lantaran Adam, putra bungsunya, mengikuti lomba baca puisi cinta.<br />
</font></p>
<p><font> &#8220;Dengan seperti ini saya ingin merangsang mereka untuk suka menulis,&#8221; katanya sambil berjalan terburu-buru melewati tumpukan-tumpukan buku di lantai dua pertokoan tersebut.<br />
</font></p>
<p><font> Ya, Asma berusaha mengajak anak-anaknya untuk menulis, mungkin seperti dirinya yang sudah menulis 30 buku dalam bentuk cerita pendek, novel, dan karya sastra lainnya.<br />
</font></p>
<p><font> Asma adalah salah satu pendiri Forum Lingkar Pena (FLP), bersama Helvi Tiana Rosa (kakaknya), dan beberapa teman lainnya. Kini, FLP memiliki 5.000 anggota yang tersebar di 100 kota di 30 provinsi Indonesia. FLP baru saja menggelar milad 10 tahunnya di Jakarta, Jumat (23/2).<br />
</font></p>
<p align="right"><font><strong> Asma dan masa kecil</strong></font></p>
<p><font> Asma Nadia adalah nama pena penulis kelahiran Jakarta 26 Maret 1972 ini. Nama lahirnya, Asmarani Rosalba, putri kedua dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti. &#8220;Kami memberinya nama itu agar dia seperti mawar putih yang selalu membawa keharuman untuk siapa pun,&#8221; ujar sang bunda.<br />
</font></p>
<p><font> Rani &#8211;begitu panggil Asma waktu kecil&#8211; dari balik bilik mungilnya, diiringi raungan kereta yang lewat persis di depan rumah di Gunung Sahari, sudah asyik dengan dunia karang-mengarang. Salah satunya sebuah puisi lahir saat usianya 6 tahun yang ditujukan untuk kakaknya, Helvi Tiana Rosa. Petikannya:<br />
</font></p>
<p><font><em> Kakakku manis sekali,<br />
Aku sayang padanya<br />
Ia pun sayang padaku,<br />
kakakku sayang&#8230;</em><br />
</font></p>
<p><font> Hingga saat usianya tujuh tahun, sebuah kenyataan mesti diterima. Kepalanya terbentur ujung besi. Berdarah dan muntah-muntah. &#8220;Saya kena gegar otak,&#8221; kata Rani, mengulangi vonis dokter yang memeriksanya.<br />
</font></p>
<p><font> Tidak cuma gegar otak, hasil pemeriksaan umum terhadap tubuhnya, diketahui ada kelainan otak bagian belakang, paru-paru kotor, jantung bermasalah, 13 giginya rusak membusuk dan tak beraturan. Dan, lima benjolan kecil yang disebut tumor!<br />
</font></p>
<p><font> Bertahun-tahun Rani bolak-balik ke rumah sakit. Gonta-ganti dokter yang menyuruhnya meminum macam-macam obat. Akan tetapi, Rani tidak mengeluh. Ia terus menulis apa pun meski kepalanya sering pusing.<br />
</font></p>
<p><font> &#8220;Saya menunggu dipanggil dokter sambil membaca. Bertahun-tahun kemudian, saya tahu mami sering melewatkan makan siang supaya saya bisa beli buku. Luar biasa, kan?&#8221; kenangnya. &#8220;Alhamdulillah lewat dunia tulisan, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan (mami),&#8221; katanya lagi.<br />
</font></p>
<p><font> Vonis bermacam penyakit tidak membuatnya lemah. Ia terus meraih ranking, masuk sekolah favorit SMU 1 Budi Utomo dan berhak ikut penerimaan PMDK di IPB. Akan tetapi, kuliah di jurusan mekanisasi pertanian itu tidak selesai karena tumor. &#8220;Sebagian sudah diangkat. Sekarang masih ada yang jinak. Nanti sajalah diangkatnya,&#8221; katanya sembari tersenyum.<br />
</font></p>
<p align="right"><strong><font> Asma dan cerita remaja</font></strong></p>
<p><font> Sejak memasuki kuliah tahun pertama, Rani atau Asma sudah mengirimkan tulisan ke majalah Islam. Tahun 1994 dan 1995, cerita pendek &#8220;Imut&#8221; dan &#8220;Koran Gondrong&#8221; menjadi juara 1 lomba Menulis Cerita Pendek Islami tingkat nasional yang diadakan majalah Annida.<br />
</font></p>
<p><font> Prestasinya terus melonjak. Novel &#8220;Derai Sunyi&#8221; (Mizan, 2002) menjadi novel terpuji tingkat nasional versi Forum Lingkar Pena dan Majelis Sastra Asia Tenggara. Tahun 2003, Penerbit Mizan juga memilihnya sebagai Penulis Remaja Terbaik Mizan. Efeknya, ia sering mendapat kesempatan memberi workshop penulisan di Malaysia sampai ke Mesir. Dan tahun 2006, selama enam bulan ia berada di Korea Selatan untuk workshop penulisan.<br />
</font></p>
<p><font> Dalam peta penulis perempuan, ia enggan terhadap pengungkapan seksualitas. Menurutnya, sudah terlalu banyak buku-buku yang tidak sesuai dengan identitas ketimuran. Ia berpendapat, sastra yang estetik tidak perlu ada unsur-unsur erotis.<br />
</font></p>
<p><font> Ia menyebut dirinya sebagai pengarang fiksi islami. Identitas itu lahir di tengah booming-nya genre fiksi sekuler dan fiksi seksual. Frase itu ia definisikan sebagai cara menyampaikan rasa Islam. Ia tidak mendefiniskannya sebagai fiksi yang menumpuk simbol agama. Misalnya, menggambarkan semua tokoh dengan jilbab atau laki-laki dengan jenggot dan serban.<br />
</font></p>
<p><font> Saat menulis &#8220;Aisyah Putri&#8221; tahun 2000, ia masih melekatkan simbol-simbol itu dalam cerita. Tapi lambat laun, ia hanya menyisakan satu atau dua tokoh saja yang seperti itu. &#8220;Saya ingin menyelami semua ruang dan kalangan. Seperti air laut, tidak perlu dipasangi papan reklame yang menyebut rasanya asin. Cukup dirasakan saja,&#8221; katanya.<br />
</font></p>
<p><font> Fiksi islaminya merupakan ungkapan untuk mencapai tujuan luhur. Jika ada jalinan cinta, cinta hadir dalam koridor etika dan moral islami. Seperti karya Asma, di mana ia angkat fenomena keseharian lalu ia putar balik pada koridor tadi.<br />
</font></p>
<p><font> &#8220;Saya kira setiap pengarang punya keberpihakan. Bahkan, jika dia netral, itulah keberpihakannya. Secara pribadi, saya berpendapat sudah seharusnya sastra menyuarakan sesuatu: kebaikan, kebenaran, keadilan dll. Sastra tidak hanya harus mengangkat realita sekaligus memanusiakan pembacanya,&#8221; katanya.<br />
</font></p>
<p><font> Misal, pada novel &#8220;101 Dating&#8221;, Asma membuka dengan fenomena kehidupan remaja berpacaran. Klimaksnya, beberapa remaja putri mengalami kehamilan. Melalui para tokoh utamanya, Kas dan Jo, fenomena itu cepat ia simpulkan.<br />
</font></p>
<p><font> Peristiwa kehamilan langsung menyeruak tanpa ada kesempatan para tokoh untuk menceritakan alasan terjadi. Tokoh Kas &#8211;laki-laki gaul yang jatuh cinta dengan perempuan Muslim Jo&#8211; lantas buru-buru dibuat pilihan untuk meninggalkan Jo. Demi menghindari kehamilan.<br />
</font></p>
<p><font> &#8220;Misinya, saya hanya ingin remaja melihat betul realitas dunia pacaran&#8230;terutama bagi remaja putri yang sering menjadi korban dan dirugikan dalam pacaran yang sering kebablasan. Saya hanya ingin remaja berpikir logis dalam menghitung untung rugi pacaran,&#8221; ujarnya.<br />
</font></p>
<p><font> Beberapa karya Asma memang lebih dekat dengan remaja. Dengan gaya populer, plot yang sederhana dan alur cerita yang progresif, ia menyelami dunia remaja. &#8220;Saya merasa lebih mudah berbicara tentang remaja, dengan gaya bahasa remaja, buat saya lebih mudah,&#8221; jelasnya.<br />
</font></p>
<p><font> Untuk melakukan hal itu, Asma terjun langsung melihat perkembangan remaja saat ini. Ia membuka blog, mendaftar di friendster, sampai mencari aktor dan grup band yang digandrungi lewat majalah gaul atau yang bersegmen Islam. &#8220;Bahkan, untuk menceritakan kisah pelacuran, saya pun masuk ke sudut-sudut kompleks pelacuran di Jakarta,&#8221; ujarnya terkekeh.<br />
</font></p>
<p><font> Saat penganugerahan Adikarya Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) tahun 2005, Asma disebut punya perbedaan dengan penulis remaja lainnya. Setiap tulisan memiliki pesan yang kuat pada remaja. Tidak terjebak verbalitas dan menggurui. &#8220;Waktu itu Nina Armando pernah mengatakan kepada saya seperti itu. Wallahualam,&#8221; ujarnya.<br />
</font></p>
<p><font> Akan tetapi untuk menggambarkan sosok Asma di dunia penulisan, tidak cukup hanya membaca cerita fiksi Islam remaja. Setidaknya tiga cerita pendek: &#8220;Koran&#8221;, &#8220;Perempuan Biru&#8221;, dan &#8220;Cut&#8221;. Dan, satu novel berjudul &#8220;Derai Sunyi&#8221; dapat membiaskan predikat penulis remaja.<br />
</font></p>
<p><font> Dalam cerita &#8220;Perempuan Biru&#8221; ia mengkritik perilaku perselingkuhan laki-laki.Ia tekankan bahwa laki-laki memang tidak pernah puas terhadap satu perempuan. Akibatnya, perempuan tersudutkan.<br />
Lalu, pada cerita &#8220;Derai Sunyi&#8221;, ia terketuk mengangkat harkat dan martabat seorang perempuan pembantu rumah tangga. Lagi-lagi ia mempertanyakan keadilan bagi kalangan perempuan. </font></p>
<p><font>&#8220;Kisahnya saya ambil ketika menonton berita adanya pembantu perempuan yang disiksa,&#8221; kata CEO di Lingkar Pena Publishing House ini.<br />
</font></p>
<p><font> Akan tetapi, ketika pembaca dihadirkan kisah Cut Rani, tidak ditemukan kritik sebuah hubungan suami-istri atau penyiksaan terhadap perempuan. Cerita itu mengisahkan sekeluarga yang tercerai berai karena tsunami. Dan sang suami, tak putus asa mencari istrinya, &#8220;Cut Rani&#8221;.<br />
</font></p>
<p><font> Lantas seperti apakah penulis bernama Asma Nadia? &#8220;Ketika banyak hal yang mesti saya tulis, saya akan menulisnya. Dalam penulisan itu saya berpihak pada keadilan,&#8221; katanya. &#8220;Tapi saya bukan seorang feminis.&#8221;<br />
</font></p>
<p><font> Sebuah hal yang unik pada diri Asma adalah ketika ia bukan sekadar penulis. Ia juga seorang konsultan psikologis. Ia menerima banyak curhat dari pembacanya, lalu ia balas semua curhat itu. Banyak orang yang heran, tapi itulah Asma. Ia ingin semua orang bahagia. Oleh karena itu, ia menciptakan site-nya sendiri bernama www.anadia.multiply.com.<br />
</font></p>
<p><font> Berbicara eksistensinya, CEO di Lingkar Pena Publishing House ini bilang, &#8220;Selama saya masih diberi kemampuan oleh Allah, insya Allah saya akan terus menulis. Dan, selama itu pula saya ingin semua orang juga bisa menulis. Yang penting modalnya semangat!&#8221;. ***</font></p>
<p>*Dimuat di Pikiran Rakyat 1 Maret 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusnews.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusnews.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnews.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnews.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnews.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnews.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnews.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnews.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnews.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnews.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnews.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnews.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=34&subd=agusnews&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/tumor-sastra-dan-eksistensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd937e35d250de17233505f38b42fac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bangkitkan Harga Diri Si Cacat</title>
		<link>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/bangkitkan-harga-diri-si-cacat/</link>
		<comments>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/bangkitkan-harga-diri-si-cacat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2007 05:38:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/bangkitkan-harga-diri-si-cacat/</guid>
		<description><![CDATA[-Cucu Saidah- 
&#160;
 MEMBANGUN harga diri, menyadari apa yang dibutuhkan, berani mengungkapkan idenya, dan mau melakukan idenya. Mereka menyebutnya sebagai aksi-aksi kecil dibanding dengan demonstrasi turun ke jalan. Menurut mereka, demonstrasi bisa saja dilakukan untuk mendorong advokasi kebijakan di wilayah pemerintah. Namun, advokasi kebijakan tidaklah akan berjalan mulus seandainya amunisi pasukan belum pula cukup. 
 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=33&subd=agusnews&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left"><strong>-Cucu Saidah- </strong></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> MEMBANGUN harga diri, menyadari apa yang dibutuhkan, berani mengungkapkan idenya, dan mau melakukan idenya. Mereka menyebutnya sebagai aksi-aksi kecil dibanding dengan demonstrasi turun ke jalan. Menurut mereka, demonstrasi bisa saja dilakukan untuk mendorong advokasi kebijakan di wilayah pemerintah. Namun, advokasi kebijakan tidaklah akan berjalan mulus seandainya amunisi pasukan belum pula cukup. </font><br />
<font> </font><span id="more-33"></span></p>
<p align="left"><font>Kira-kira begitu rangkuman strategi yang tengah dipersiapkan Bandung Independent Living Center (Bilic). Bilic adalah salah satu organisasi yang bertujuan menyelesaikan kompleksitas penyandang cacat di Kota Bandung. </font></p>
<p align="left"> <font> Awalnya, Bilic merupakan forum diskusi aksesibilitas yang memulai kegiatannya 25 Maret 2003. Kegiatan diskusi dilakukan bersama akademisi arsitektur dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga memiliki perhatian terhadap masalah aksesebilitas kota, terutama pada sarana fisik kota. Contohnya, sarana jalan, transportasi, gedung-gedung pemerintah dan swasta, serta penataan lingkungan yang ramah terhadap semua orang. </font></p>
<p align="left"><font> Pada saat itu, forum tersebut bernama Wahana Peduli Aksesibilitas Bandung (WPAB). Wadah itu lantas melakukan kegiatan pertama dengan melihat-lihat fasilitas publik. Mereka dokumentasikan dan dipakai sebagai bahan kampanye tentang aksesibilitas. Kegiatan tersebut berlangsung Juni 2003. </font></p>
<p align="left"><font> &#8220;Ada banyak komunitas di sana. Kira-kira 40 orang mahasiswa dan umum yang ikut terlibat dalam kegiatan waktu itu,&#8221; kata Cucu Saidah (32), Ketua Badan Pembina Bilic.</font></p>
<p align="left"><font> WPAB lantas berganti nama menjadi Bilic 13 Juli 2003. Mengutip situs Mitranetra, pergantian nama itu ditujukan agar organisasi tersebut dapat lebih melayani kebutuhan penyandang cacat secara luas dan menyeluruh, serta untuk mewujudkan hak hidup mandiri bagi mereka.</font></p>
<p align="left"><font> Dengan tujuh orang aktivis, Bilic melangsungkan kegiatannya di salah satu rumah di kawasan Pasirhuni, Kota Bandung. Rumah tipe 36 itu sejatinya bersatu dengan kediaman pribadi Cucu sendiri. Ruangan kerja mereka kira-kira seluas 4 x 4 meter persegi. </font></p>
<p align="left"><font> Lewat empat tahun sejak didirikan, lantas apa saja yang telah dilakukan Bilic terhadap kawan-kawan penyandang cacat di Kota Bandung? Berikut petikan wawancara Kampus dengan Cucu Saidah yang berlangsung Sabtu, (15/9). </font></p>
<p align="left"><strong><font> Upaya perjuangan penyandang cacat di Kota Bandung sebenarnya memiliki konsep seperti apa? Dan apakah konsep itu sendiri sudah menemukan jalan terang sehingga mudah untuk diwujudkan?</font></strong><br />
<font> Sebelum 2003, saya mendapat kesempatan belajar ke Jepang. Di sana saya mendapat pemandangan kota yang amat berbeda dengan negeri yang kita tinggali sekarang. Sebagai orang yang juga memiliki cacat, saya benar-benar tercengang dengan fasilitas kota yang memudahkan penyandang cacat beraktivitas. </font></p>
<p align="left"><font> Namun, itu bukan berkah yang diterima begitu saja. Sejarahnya sekitar 35 tahun yang lalu, di Jepang ada sekolompok penyandang cacat karena gangguan di otak kecil sehingga motorik terganggu. Mereka berdemo besar-besaran sampai terbaring di tengah jalan dan rel. Gerakan ini kencang sekali dan bersatu di mana-mana. </font></p>
<p align="left"><font> Gerakan itu dipadu pula dengan upaya belajar ke Amerika Serikat. Dengan beasiswa belajar, mereka berangkat ke Amerika Serikat untuk mempelajari pola gerakan di sana. Gerakan itu menghasilkan Center for Independent Living 1989. Mulai dari situ program awalnya juga ringan yaitu diarahkan ke penyandang cacat. Mereka berusaha mengubah cara pandang dan perspektif penyandang cacat terhadap dirinya sendiri dulu. </font></p>
<p align="left"><font> Di Amerika sendiri, gerakan paling kuat sekitar 1972, ditandai adanya Center for Independent Living pertama di Amerika. Gerakan itu dimotori oleh seorang penyandang cacat polio yang cukup berat. </font></p>
<p align="left"><font> Gerakan di Amerika sendiri baru 1990 melahirkan American with Disabilities Act. UU antidiskriminasi itu membawa perubahan ke wilayah pendidikan dan ketenagakerjaan. Semua fasilitas publik dan privat harus aksesibel, karena kalau tidak bisa dituntut ke pengadilan. </font></p>
<p align="left"><font> Dari dua gerakan di atas, sebenarnya bukan sekadar gerakan untuk kepentingan penyandang cacat semata. Konsep independent living itu sebenarnya konsep terbuka untuk semua orang yang ada di dalam suatu wilayah. Maksudnya, jika setiap kota menyediakan fasilitas yang aksesibel maka semua orang bisa menikmati dengan nyaman. </font><br />
<font> Konsep ini bagi pembangunan fisik, sebenarnya mengarah pada konsep universal design. Fasilitas trotoar yang dibangun dengan kelandaian tertentu dan rata tentu bermanfaat untuk semua orang. Tidak sulit untuk tempat berjalan perempuan bersepatu hak tinggi dan tidak sulit bagi pemakai kursi roda. </font></p>
<p align="left"><strong><font> Konon konsep seperti itu membutuhkan biaya yang mahal dan teknologi canggih. Bagaimana menurut Cucu? Apakah memang betul seperti itu?</font><br />
</strong> <font> Jepang memang memiliki teknologi yang sudah tinggi. Tapi, sebenarnya bukan di situ letak persoalannya. Letaknya adalah pada kemauan pemerintah dan masyarakat untuk mau memulai sejak awal. Misalnya, dalam hal pembangunan jalan saja, kenapa tidak dimulai dengan trotoar yang landai dan tidak dipergunakan untuk berdagang kaki lima?</font></p>
<p align="left"><font> Masalahnya bukan hanya pada kebijakan, tetapi berkaitan dengan sikap masyarakat yang juga belum menyadari hal ini. Para penyandang cacat sebenarnya bagian dari masyarakat. Namun, persepsi cacat itu juga terbentuk berdasarkan permasalahan sosial dan kultur yang berkembang.</font></p>
<p align="left"><font> Kami sebenarnya mulai melakukan banyak kampanye pada masyarakat. Minimalnya dari memberi pengertian yang benar tentang siapa itu penyandang cacat. Jangan sampai kita berpikir sempit bahwa aksebilitas hanya untuk penyandang cacat. Padahal, kalau itu dilakukan ada manfaatnya untuk semua orang. </font></p>
<p align="left"><strong><font> Jadi mana dulu yang memiliki prioritas untuk diberikan penyadaran tentang konsep tadi?</font><br />
</strong> <font> Kedua-duanya yaitu pemerintah dan masyarakat. Tapi, di Bilic prioritas diberikan pada penyandang cacatnya dulu. Karena, omong kosong kalau kita menuntut pemerintah dan masyarakat, tapi kami belum berubah. </font></p>
<p align="left"><font> Maksudnya, Bilic memberi perhatian terhadap peningkatan harga diri dan kemandirian terhadap penyandang cacat itu sendiri. Karena, kami tidak bisa bergerak andaikata kami belum menyadari siapa sebenarnya kami. Harus diingat bahwa seseorang menjadi cacat bukan karena fisiknya saja, tapi konstruksi sosial yang menyebabkan seseorang merasa tidak bisa berbuat apa-apa. </font></p>
<p align="left"><font> Bilic memberi perhatian pada individunya sekaligus pada keluarga. Kedua-duanya diberikan pemahaman melalui konseling. Bagi si individu, konseling diberikan melalui peer conseling, konseling yang dilakukan oleh sesama penyandang cacat. </font></p>
<p align="left"><font> Kami berikan pemahaman tentang kesamaan latar belakang dan perlakuan, sehingga mereka bisa mengetahui siapa dirinya dan bagaimana lingkungan telah membentuk dirinya. Selanjutnya kami ajak mereka mulai berani mengungkapkan kebutuhan mereka dan mulai mandiri untuk melakukan kegiatan. </font></p>
<p align="left"><font> Memang benar ada kesulitan yang terus membayangi peran penyandang cacat. Ada lingkaran kemiskinan yang sulit untuk diputus. Kawan-kawan penyandang cacat sulit memiliki pekerjaan. Sekalipun ada lahan pekerjaan, tapi masalah formal ijazah kadang pun menjadi masalah. Rata-rata pendidikan mereka terbatas sampai SD atau SMP. Sistem tidak melihat potensi yang dimiliki. </font></p>
<p align="left"><font> Sementara itu, untuk keluarga memang agak lebih hati-hati. Memang masih jarang peran keluarga yang bisa menanamkan kepercayaan diri kepada anaknya. Hal Ini barangkali karena informasi dan layanan yang sangat terbatas. </font></p>
<p align="left"><font> Misalnya, ada seorang ibu yang anaknya menjadi cacat tidak tahu bagaimana mencari informasi tentang itu. Nah, kalau dia datang ke dokter untuk terapi artinya harus mengeluarkan biaya yang besar. Dan itu merupakan halangan bagi sebagian keluarga untuk tidak melanjutkan pencarian informasi dan layanan. </font></p>
<p align="left"><strong><font> Bagaimana dengan Peraturan Daerah (Perda) Perlindungan Khusus Penyandang Cacat Oktober 2006, apakah menurut Anda bisa memutus lingkaran tadi? Apa pendapat Cucu tentang hal ini?</font><br />
</strong> <font> Secara pribadi saya pesimistis. Ini maaf-maaf saja ya. Kita sudah punya banyak UU dan peraturan pemerintah tentang penyandang cacat, tapi mana implementasinya. Perda yang ada sekarang juga cuma mencuplik dari peraturan yang sudah ada bukan? </font></p>
<p align="left"><font> Sebenarnya masalah kecacatan berkaitan dengan semua hal, seperti, pendidikan, ketenagakerjaan, perhubungan, informasi, dan komunikasi. Kalau kita bicara inklusi, maka masukkan saja soal penyandang cacat ke semua peraturan yang sudah ada. Perda itu kan hanya pembuktian di atas kertas saja berdasarkan tuntutan. Sekarang sih kami menunggu implementasinya saja. </font></p>
<p align="left"><font> Bilic ada keinginan untuk membuat badan usaha ekonomi sendiri, yang bisa mengatasi masalah materiil penyandang cacat. Ada pikiran membuat travel agent yang sekaligus menyediakan informasi tentang aksesibilitas dan pendampingan advokasi. Hal ini, berangkat karena mereka yang melakukan perjalanan seringkali mendapatkan diskriminasi. </font></p>
<p align="left"><font> Hal itu, berkaitan pula dengan konsep ideal dari Center for Independent Living. Idealnya tidak hanya memberikan layanan konsultasi, tapi juga menyediakan transportasi aksesibel. Juga ada peran advokasi yang mesti pula dilakukan.</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusnews.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusnews.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnews.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnews.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnews.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnews.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnews.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnews.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnews.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnews.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnews.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnews.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=33&subd=agusnews&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/bangkitkan-harga-diri-si-cacat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd937e35d250de17233505f38b42fac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ingin Tetap Jaga Tradisi</title>
		<link>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/32/</link>
		<comments>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/32/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2007 05:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/32/</guid>
		<description><![CDATA[Mikihiro Moriyama
 				&#8220;Walaupun saya nanti di rumah jompo, saya tidak akan merasa kesepian. Karena sepanjang hayat saya harus terus belajar.&#8221;
 
SENYUM yang memperlihatkan sedikit susunan gigi yang rapi kerap mengembang. Cara bicaranya santun dengan logat bahasa Sunda yang fasih. Orang pun kerap terheran-heran dengan kemampuan dari kawan dosen yang lahir di Kyoto, Jepang, pada 16 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=32&subd=agusnews&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left">Mikihiro Moriyama</p>
<p align="left"><font> 				&#8220;Walaupun saya nanti di rumah jompo, saya tidak akan merasa kesepian. Karena sepanjang hayat saya harus terus belajar.&#8221;</font><br />
<font> </font><span id="more-32"></span></p>
<p align="left"><font>SENYUM yang memperlihatkan sedikit susunan gigi yang rapi kerap mengembang. Cara bicaranya santun dengan logat bahasa Sunda yang fasih. Orang pun kerap terheran-heran dengan kemampuan dari kawan dosen yang lahir di Kyoto, Jepang, pada 16 September 1960 itu. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Dia, Mikihiro Moriyama, merupakan seorang profesor pada bidang kajian Indonesia di Departemen Asian, Fakultas Studi Luar Negeri, Universitas Nanzan, Jepang. Keahliannya pada kajian sastra dan budaya Sunda. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Tahun 2005, ia membuat kalangan budayawan dan intelektual lokal mulai banyak memperbincangkan dirinya. Sebuah disertasi yang disusun selama 13 tahun berubah menjadi buku yang banyak mengundang diskursus. Buku itu berjudul &#8220;Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad Ke-19&#8243; yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> &#8220;Saya hampir bosan menyusun buku itu,&#8221; katanya bergurau.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Buku itu adalah buku ketujuh selama perjalanan hidup Miki. Buku tentang Sunda lainnya, misalnya, buku berjudul Sundanese Conversation (Sunda-go Kaiwa in Japanese). Selain tentang kesundaan, ia pun jatuh cinta pada karya seniman Putu Wijaya. Pada tahun 1998, mengalihbahasakan karya Putu berjudul Telegram ke bahasa Jepang. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Karya-karya itu tidak akan muncul jika cita-cita kecilnya menjadi pegawai di kantor swasta perdagangan atau menjadi diplomat diteruskan. Jika saja ia tidak bertemu budayawan Sunda, Ajip Rosidi, di salah satu kelasnya, mungkin Miki membuat karya lain. </font><br />
<font> </font></p>
<p align="right"><strong><font> Tinggal di kampung</font></strong></p>
<p align="left"><font> Miki, pemuda desa dari Ayabe. Ayahnya adalah seorang pekerja kantor pemerintah. Ia menyebut pekerjaan di kantor pemerintahan sebagai pekerjaan yang statis dan tidak berkembang. Miki muda tidak ingin seperti itu. Ia ingin bekerja di kantor perdagangan swasta agar bisa naik pangkat. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Ia ingin keluar negeri, tetapi masih di kawasan Asia. Ia mencari negeri dengan pelajaran bahasa yang mudah dipahami. Lantas pilihan pun jatuh pada pengajaran bahasa Indonesia. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> &#8220;Kawan-kawan di sana menyebut aneh. Kenapa saya pilih Indonesia?&#8221; tutur Miki.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Wajar pertanyaan itu muncul. Sejak Restorasi Meiji, Jepang sudah bercita-cita setara dengan negeri-negeri Barat dan ingin menjadi nomor satu di Asia. Oleh karena itu, banyak anak muda Jepang yang belajar ke Eropa dan Amerika Serikat. Jika ada pilihan yang tidak pada kedua wilayah itu, maka akan disebut aneh. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Namun, Miki tidak menggubris pendapat itu. Menurutnya, perjalanan ke negeri yang tidak pernah tersentuh seperti Indonesia merupakan tantangan. Tantangan itu akan membawa pada berkah pengetahuan dan pelajaran yang berlimpah. Untuk itu, ia masuk Department of Indonesian, Osaka University of Foreign Studies.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Tahun 1980, Miki pergi melihat negeri yang tak pernah dilihatnya. Modal uang 200 ribu yen hasil kerja sambilan sebagai pemandu wisata, satpam, pedagang buah di supermarket sampai guru privat. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> &#8220;Tahun 1980-an, saya jalan-jalan sebulan ke Bali, Tana Toraja, Yogyakarta, sampai Bandung. Dan, saya hanya sendirian di pesawat Singapore Airlines menuju Indonesia,&#8221; ujarnya mengenang.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Kembali ke Jepang, ia bertemu dengan Ajip Rosidi yang mengajar di salah satu kelasnya. Identitas Sunda yang melekat pada diri budayawan itu memberi inspirasi untuk mengenal tentang Sunda lebih dalam. Melalui dorongan (alm) Prof. Kenji Tsuchiya, ia memilih Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai awal membuka tabir budaya Sunda. Di kampus ini ia mendapat bimbingan dari tokoh Sunda ternama (alm) Edi S. Ekadjati.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> &#8220;Saya melihat sosok Ajip Rosidi (budayawan Sunda). Integritasnya terhadap budaya Sunda memberi inspirasi kepada saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang Sunda,&#8221; ujar Miki pada Kampus saat berbincang di teras kamar penginapannya yang asri, Jumat (24/8), </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Modal beasiswa Rp 75 ribu per bulan, ia manfaatkan benar. Kuliahnya dijalani seminggu sekali, Miki lebih banyak mencari seniman, budayawan, dan wartawan yang memahami budaya dan bahasa Sunda. Bahkan, ia rajin ikut rombongan tari jaipongan sampai ke pelosok Jawa Barat.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Tidak cukup bergaul di Kota Bandung, Miki memilih tinggal di kampung bernama Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat. Selama 6 bulan ia belajar bahasa Sunda, adat istiadat, sampai mengaji setelah magrib. Apakah pindah agama? Tidak, ia belajar untuk mengetahui budaya masyarakat lokal.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Dari Wanayasa, ia ke Cianjur sampai ke Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Dari sana ia bisa belajar menghayati kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Menghargai alam sebagai tempat hidup yang mesti dijaga keseimbangannya dan dijauhkan dari pengeksploitasian berlebihan. Hubungan manusia yang tidak berlandaskan kepentingan sesaat, tetapi corak kebersamaan dan toleransi sebagai individu untuk saling membantu.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Hal itu ia tidak dapatkan jika berada di kota besar. Antara kota dengan desa seperti dua negara yang berbeda. Kesederhanaan desa dengan glamor kota merupakan dua wilayah kontras yang kasat mata. Akan tetapi, ia tidak menyembunyikan bahwa kekuasaan uang pun larut di ibu kota kabupaten yang dekat dengan kota besar. </font></p>
<p align="center"><strong><font> ***</font></strong></p>
<p align="left"><font> MIKI duduk tegap di kursi nomor dua dari belakang. Pembawaannya tenang, tetapi tidak lepas memandang tiap wajah anak-anak kelas V di SD Negeri Soka, Bandung, Jawa Barat. Senyumnya tak pernah lepas menghias wajahnya ketika anak-anak balas memerhatikannya. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Belakangan ini, dia sering datang ke sekolah-sekolah dasar dan menengah. Ia mengamati metode pengajaran bahasa Sunda di sekolah sekaligus mencari tahu bahasa pengantar anak-anak jika berada di rumahnya. Data-data ini untuk persiapan bukunya yang terbaru tentang bahasa Sunda.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Namun, ada hal lain yang ia perhatikan. Di Indonesia, anak-anak belajar ilmu pengetahuan seimbang dengan pengetahuan agamanya, terkhusus Islam. Hal yang berbeda di Jepang yang lebih mengutamakan ilmu pengetahuan dibanding agama. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Sains mengejar kebenaran, tetapi sebenarnya manusia tidak bisa mencapai kebenaran itu sendiri. Menurutnya, absolutisme kebenaran hanyalah milik pemilik jagat raya ini. Namun, tidak semua orang menyadari akan hal itu sebagaimana Miki alami sendiri di negeri lain.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Manusia, katanya, hanya bisa mendekati kebenaran itu sendiri. Manusia bisa menyadari hal ini ketika kebutuhan akan rohaninya terpenuhi. Keseimbangan antara kapasitas intelegensia dan spiritual mendorong manusia tidak ambisius, baik dalam hal materi atau apa pun. Keseimbangan akan mendatangkan kebahagiaan.</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> &#8220;Saya suka dengan orang Sunda di kampung karena mereka tidak ambisius. Mereka tidak menonjolkan diri mereka walaupun mereka memiliki kemampuan untuk tampil,&#8221; tuturnya. </font><br />
<font> </font></p>
<p align="right"><strong><font> Di panti jompo</font></strong></p>
<p align="left"><font> Ia mengaku, ilmu kesederhanaan dan perpaduan sains dengan agama yang ia peroleh selama penelitiannya memberi perubahan pada dirinya. Saat ini ia lebih sering bertanya bahwa dirinya terus bertanya tentang bagaimanakah manusia hidup?</font></p>
<p align="left"> <font> Pertanyaan-pertanyaan itu lantas ia jawab dengan menekuni bidang akademis. Menurutnya, menjadi peneliti merupakan langkah untuk menjawab pertanyaan itu. Peneliti akan berjalan mendekati kebenaran dan terus mengujinya. Ruang pekerjaan akademis tidak akan terganggu oleh waktu usia menjelang tua. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font>Walaupun nanti tinggal di panti jompo, proses menjawab pertanyaan tadi akan terus bergulir. </font><br />
<font> Sebagai akademisi, Miki tetap punya fokus yang ingin ia teruskan. Demi menjawab pertanyaan tentang makna kehidupan dirinya, eksistensinya dirasa berguna untuk mengulas tentang budaya literasi Sunda. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> &#8220;Saya ingin kembalikan apa yang saya telah peroleh dari masyarakat Sunda,&#8221; katanya.</font></p>
<p align="left"><font>Lantas, apakah Miki mau menjadi warga negara Indonesia? &#8220;Tidak,&#8221; jawabnya. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Pasalnya, sebagai anak sulung Miki punya tanggung jawab terhadap warisan nenek moyang di desanya, seperti sawah, hutan, dan makam. Termasuk tanggung jawab sebagai warga desa untuk membantu membersihkan desa setiap bulan. </font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><font> Miki tetap memegang paspor Jepang, tetapi bukan berarti kehidupannya terbatas di satu tempat. Ia masih ingin berkelana untuk menjawab pertanyaannya. Hal yang bisa membawanya diam di tempat adalah tugasnya sebagai pemegang nilai tradisi nenek moyangnya.***</font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left">*dimuat di Pikiran Rakyat, 30 Agustus 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusnews.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusnews.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnews.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnews.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnews.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnews.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnews.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnews.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnews.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnews.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnews.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnews.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=32&subd=agusnews&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/32/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd937e35d250de17233505f38b42fac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lembur Mengurus Sampah</title>
		<link>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/lembur-mengurus-sampah/</link>
		<comments>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/lembur-mengurus-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2007 05:17:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/lembur-mengurus-sampah/</guid>
		<description><![CDATA[Kala penduduk di sekitar rumahnya masih terlelap setelah aktivitas silaturahmi dan rekreasi di hari Lebaran, Hendi (52) tetap menunaikan tugasnya. Sekitar pukul 5 pagi, Hendi sudah berangkat dari rumah bilik berukuran 6&#215;8 meter persegi satu sudut gang di kawasan Jln. Surapati menuju tempatnya bertugas.
Ia baru saja menerima kabar dari atasannya untuk pindah lokasi. Pada hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=29&subd=agusnews&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kala penduduk di sekitar rumahnya masih terlelap setelah aktivitas silaturahmi dan rekreasi di hari Lebaran, Hendi (52) tetap menunaikan tugasnya. Sekitar pukul 5 pagi, Hendi sudah berangkat dari rumah bilik berukuran 6&#215;8 meter persegi satu sudut gang di kawasan Jln. Surapati menuju tempatnya bertugas.</p>
<p><span id="more-29"></span>Ia baru saja menerima kabar dari atasannya untuk pindah lokasi. Pada hari biasa, Hendi bertugas di sekitar kawasan Jln. Siliwangi, Bandung. Akan tetapi pada Senin (15/10), Hendi menerima tugas lembur di tempat baru yang lebih menantang. Ia mesti menyapu jalan dari pukul 06.00 WIB-16.00 WIB di sekitar kawasan rekreasi Kebun Binatang Bandung.</p>
<p>&#8220;Kata Bapak (atasan Hendi) di sini tidak ada orang. Boboran keneh janteun teu araya,&#8221; ujar kakek yang sudah memiliki dua orang cucu ini. Hendi tidak mau mangkir dari kewajiban yang ia terima karena risikonya juga besar.</p>
<p>Hendi sudah 20 tahun bekerja pada PD Kebersihan Kota Bandung. Kemeja dan topi kuning khas sudah kumal dan memudar warnanya. Maklum, setiap hari selama 6 jam, ia harus berada di pinggir jalan, membersihkan sampah yang dibuang penduduk Bandung yang melewati daerah tugasnya.</p>
<p>Pagi itu Hendi tidak makan. Soal lapar dikesampingkan dulu demi tugas yang datang pagi itu. Deretan sampah di sepanjang Jln. Ganeca sampai Kebun Binatang sudah menanti. Onggokan sampah di kawasan wisata itu sudah 24 jam tidak terangkut. Bau busuknya juga sudah tersebar kemana-mana. &#8220;Duh pusing lihat di jalan seperti itu. Kalau nggak beres sore nanti bisa repot,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ia juga harus menyapu jalan ke Jln. Siliwangi sampai ke pertigaan Jln. Dayang Sumbi. Jaraknya sama saja dengan mengelilingi kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Hal itu ia lakukan sendirian. &#8220;Sepertinya teman-teman yang lain masih pada libur. Seharusnya ada tiga orang,&#8221; katanya.</p>
<p>Volume sampah pada hari itu sudah berlipat-lipat. Maklum saja orang yang berekreasi ke kawasan itu, kata Hendi, tidak pernah membawa kantung plastiknya sendiri. Ada tong sampah juga dilewatkan begitu saja. Segala jenis sampah, sisa makanan, bungkus plastik, kertas, dan bekas minuman kaleng berserakan begitu saja di jalan. Tugasnya mengumpulkan sampah-sampah itu.</p>
<p>Sesaat ia berhenti karena ada kendaraan yang memepet pergerakannya. Kadang ia mengelus dada ketika jalur yang baru saja ia sapu sudah mendapat sampah baru. &#8220;Kumaha &#8216;nya? Orang bisa saja terus protes sampah di Bandung menumpuk. Tapi, ya, begitulah kebiasaannya,&#8221; ujarnya dengan nada tinggi.</p>
<p>Di Jln. Ganeca memang hampir tidak ada tempat sampah. Para pedagang biasanya membuat tempat sampah sendiri dari kantong plastik. Seperti pengakuan seorang pedagang jus buah-buahan, yang biasa membuang sampah kulit atau biji buahnya ke pembuangan dekat rumahnya. Sementara untuk para pelesir, mereka tidak punya alternatif tempat pembuangan kecuali ke jalan.</p>
<p>Pemandangan seperti itu terjadi di dalam Kebun Binatang. Padahal di area ini jumlah tempat sampah banyak sekali. Jarak antartempat sampah kira-kira 10 langkah. Tapi, jarang orang mau membuang sampah ke sana.</p>
<p>Satu rombongan keluarga yang datang ke kebun binatang dengan menumpang truk pasir misalnya. Saat makan siang tiba, mereka mulai menggelar tikar untuk makan bersama. Usai makan, sisa makanan ditumpuk dan ditinggalkan. Padahal jarak dengan tempat sampah cuma lima langkah.</p>
<p>Suasana Lebaran dan hari biasa, bagi Hendi hampir tidak ada bedanya. Ketupat, opor ayam, apalagi kue Lebaran juga sulit dirasakan tahun ini. Maklum, sebagai karyawan tetap, pendapatannya per bulan sekitar Rp 500.000,00 dipakai untuk membiayai istri dan empat anaknya. Keluarga besar ini tinggal dalam satu rumah bilik yang disewa seharga Rp 1,5 juta per tahun.</p>
<p>Setelah menyempatkan bersilaturahmi di hari pertama, di hari kedua dan seterusnya ia harus bekerja. Waktu kerjanya memang terhitung lembur dengan bayaran Rp 17.500,00. Buat makan selama jam kerja, ia harus mengeluarkan uang Rp 8.000,00 dan sisanya ia berikan untuk dapur rumah.</p>
<p>&#8220;Anak saya yang paling besar kan sudah tidak bekerja lagi. Ya, ini saja yang baru bisa jadi pemasukan,&#8221; katanya menampakkan senyum yang memperlihatkan sisa-sisa giginya.<br />
Hendi tidak berusaha untuk mengumpulkan sisa kaleng dan botol air mineral. Katanya, ia tidak mau mengambil rezeki buat para pemulung. Maklum saja, ia bertugas di jalan yang bisa diakses siapa pun.</p>
<p>Pukul 10 pagi, saat pengunjung mulai memadati kawasan Ganesha, ia letakkan gagang sapu, pengki, dan tong sampahnya. Ia mulai mencari bubur kacang ijo sebagai sarapan sekaligus makan siangnya. (Agus Rakasiwi)</p>
<p>*dimuat di Pikiran Rakyat, 17 Oktober 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusnews.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusnews.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnews.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnews.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnews.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnews.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnews.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnews.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnews.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnews.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnews.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnews.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=29&subd=agusnews&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnews.wordpress.com/2007/10/17/lembur-mengurus-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd937e35d250de17233505f38b42fac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teater dan Pembebasan Ketertindasan</title>
		<link>http://agusnews.wordpress.com/2007/08/08/teater-dan-pembebasan-ketertindasan/</link>
		<comments>http://agusnews.wordpress.com/2007/08/08/teater-dan-pembebasan-ketertindasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Aug 2007 03:35:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnews.wordpress.com/2007/08/08/teater-dan-pembebasan-ketertindasan/</guid>
		<description><![CDATA[Tanah tidak untuk mereka yang duduk 
Ongkang-ongkang menjadi gemuk
 Dua baris kalimat itu menjadi pembuka pementasan teater berjudul “Bicaralah Tanah”. Teater ini diproduksi oleh Teater Studio Indonesia bekerjasama dengan Konsorsium Pembaharu Banten, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang melakukan advokasi terhadap petani dan nelayan. 
Cerita dalam teater ini berlatar belakang peristiwa heroik Geger Cilegon pada tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=12&subd=agusnews&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Tanah tidak untuk mereka yang duduk </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ongkang-ongkang menjadi gemuk</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-12"></span> <span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dua baris kalimat itu menjadi pembuka pementasan teater berjudul “Bicaralah Tanah”. Teater ini diproduksi oleh Teater Studio Indonesia bekerjasama dengan Konsorsium Pembaharu Banten, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang melakukan advokasi terhadap petani dan nelayan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://agusnews.files.wordpress.com/2007/08/agus_bebeng__4_.jpg" title="Awas Kau Tuan Tanah!"><img src="http://agusnews.files.wordpress.com/2007/08/agus_bebeng__4_.thumbnail.jpg" alt="Awas Kau Tuan Tanah!" /></a><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Cerita dalam teater ini </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">berlatar </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">belakang </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">peristiwa </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">heroik Geger Cilegon pada tahun 1888. Peristiwa Geger Cilegon</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> merupakan wujud perlawanan kaum petani yang dikomandani KH. Wasid. Ini adalah contoh bagai</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">mana para petani marah dan melakukan perlawanan terhadap penindasnya.</span><a href="http://agusnews.wordpress.com/2007/08/08/teater-dan-pembebasan-ketertindasan/bicaralah-tanah-2/" rel="attachment wp-att-17" title="BIcaralah Tanah"><img src="http://agusnews.files.wordpress.com/2007/08/agus_bebeng__6_1.thumbnail.jpg" alt="BIcaralah Tanah" height="150" width="222" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Teater dengan menggunakan media tan</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">ah sebagai panggung ini bermula dari cerita pemerintah kompeni yang meminta semua kerbau yang berpenyakit dimusnahkan. Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> petani menolak dan meminta pemerintah menyediakan obat-obatan untuk kerbau mereka. Tapi, penguasa berdalih penyakit kerbau tidak bisa diobati.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> “Sudah lebih baik dimusnahkan saja toh pemerintah </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">s</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">udah menyediakan ganti ruginya,” ujar penguasa.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"></span></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">“Dimana ganti ruginya. Kami tidak pernah menerima ganti rugi!” kata petani menimpali. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Cerita kesengsaraan berlanjut dengan nilai pajak tinggi yang diminta dari petani, bencana letusan gunung Krakatau, dan kasus-kasus kriminal seperti</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> penyiksaan, penganiayaan, dan pemerkosaan. Alur penderitaan itu melahirkan adegan protes. Bermodalkan parang dan p</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">acul para petani menyerbu markas penguasa. Tapi, mereka mati di ujung senapan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Cerita tadi makin mencekam saat suara benturan parang dengan besi pacul. Adegan ini tidak sekali sehingga p</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">enonton yang duduk pada barisan depan menutup kuping dan mata mereka. Selain tak kuat dengan bunyi melentingnya, mereka pun takut ter</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">kena serpihan logam hasil benturan tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Tekanan psikologis itu kadang menurun ketika dialog antar petani dalam format keragaman bahasa. Gaya aktor yang membawakan logat Betawi, Cina, Sumatera Utara, Cirebon, dan Banten kerap mengundang decak tawa.</span></p>
<p class="MsoNormal">                                 <span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Teater yang digelar di aula Pusat Kebudayaan Prancis (</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">CCF) Bandung juga sarat dengan budaya lokal. Misalnya, alunan musik tradisi yang berasal </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">dari calung renteng dan angklung mengiringi nyanyian rakyat Rajah Lutung Kasarung, sebuah <em>folklore</em> untuk mengusir bahaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">”Saya bukan hanya menyutradara</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">i pemain tapi juga penonton. Bantingan-bantingan yang mencekam dan mengganggu membolehkan penonton pindah dan menyelematkan diri. Itulah menonton yang tidak biasa,” ujar Ndg. Aradea. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Isu Tertindas</span></p>
<p class="MsoNormal">
<span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> Rambut panjang sebahu, tubuh tinggi besar yang dibalut kaos dan celana agak ketat adalah tampilan fisik yang mudah terlihat dari sosok Ndg. Aradea. Tapi, setelan nyentrik itu sebenarnya memiliki misteri dalam pikiran dan tubuhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Postur tinggi besarnya sekilas memperlihatkan kegagahan. Tapi siapa sangka ia sudah melakukan cuci darah sejak akhir tahun 2005 lalu. Walaupun sebenarnya penyakit gagal ginjalnya sudah terjadi sejak 1993 silam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Tapi Ndg. Aradea seperti tidak memperdulikan itu. Eksplorasi seni instalasi dan teaternya terus menjadi sejak ia belajar teater di Teater Mahasiswa IKIP Bandung (kini Lakon Teater UPI). Sejak tahun 1993-2006, sedikitnya ada delapan naskah teaternya y</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">ang dipentaskan, seperti, , Reportase Ladang-ladang, Dor, Sumur Tanpa Dasar, Indonesia Setengah Tiang, Extravaganza, Teknologi Penjara, Tengkoraksia dan Perahu.</span><a href="http://agusnews.files.wordpress.com/2007/08/agus_bebeng__7_.jpg" title="Bicaralah Tanah_2"><img src="http://agusnews.files.wordpress.com/2007/08/agus_bebeng__7_.thumbnail.jpg" alt="Bicaralah Tanah_2" height="155" width="109" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">”Dengan membuat teater tubuhku terasa lebih baik. Proses adalah terapi,” ujar suami dari Lina Susanti dalam pesan pendek yang dikirimnya kepada <em>Kampus</em> beberapa waktu lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dalam pertunjukkan teater, Ndg. Aradea memang tidak ingin orang membicarakan rasa letih dan pucat yang merona di wajahnya. Ia hanya ingin orang menyaksikan karyanya yang berisi pesan dan kritik sosial. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dalam pertunjukkan Bicaralah Tanah, penonton akan menyaksikan cerita penindasan terhadap petani. Bukan sekedar mendongeng penindasan tapi kritik juga terlontar melalui ungkapan verbal dan tubuh aktor. Isu ketertindasan menjadi isu sentral yang kerap diusung Ndg. Aradea.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Teater , kata Dia, merupakan ruang representasi problematika sosial, politik, dan alam. Teater menjadi media yang memberi pendidikan untuk mengajak manusia kembali berpikir untuk menyelesaikan persoalannya. Hal ini menjadikan seni tidak hanya sebagai hiburan, tapi sebuah refleksi untuk melakukan perubahan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Ndg. Aradea, tidak berada pada konsep ideologi kanan-kiri </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">atau tengah. Baginya teater menjadi ruang refleksi terhadap siapapun yang tertindas. Teater menjadi ruang pendidikan penyadaran untu bagi siapapun yang merasa terdominasi dan termarginalisasi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">”Saya tidak menganut ideologi apapun. Siapapun yang tertindas harus kami bela!,” kata dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Garapan ”Bicaralah Tanah” ini pernah dipentaskan sebanyak tiga malam di Serang, Banten. Tiap malam penontonnya terbagi strata sosialnya, tapi paling banyak adalah petani tradisi Banten. Seorang petani bernama Kholid Pontang selalu terisak dalam tangis ketika menonton pagelaran itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">”Teater ini akan terus berkeliling mengajak orang untuk mengerti masalah petani,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dunia teater telah mendorongnya</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> mendirikan kelompok teater kampus (Kafe Ide Untirta), lalu teater profesional (Teater Studio Indonesia) di Serang, Banten. Usai kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung (kini UPI), Ia melanjutkan </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">kuliah di Magistratura program studi penyutradaraan di Russian Academy of Art Theatre (GITIS) Mokswa-Rusia. Kuliahnya belum rampung tapi, sempat mementaskan dua karyanya di hadapan publik Rusia berjudul ”The Doctor” dan ’Biografi Menggoreng Batu”. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dalam kenangan Budayawan Sunda, Godi Suwarna, Ndg. Aradea telah lama kepincut gagasan-gagasan Vsevold Emilevich Meyerhold (1874-1940), seorang dramawan Rusia. Salah satu gagasan Meyerhold adalah sikap teralienasi penonton terhadap cara berpikir umum dan masuk ke dunia alternatif penyelesaian masalah kemanusiaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Dalam konsep teater yang lebih ilmiah, Ndg. Aradea mengusung konsep <em>post realism</em>. Konsep ini mengajak penonton untuk berpikir kritis dan memberikan solusi terhadap masalah yang hadir di depannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Eksplorasi seninya lantas berujung pada konsep yang disebutnya ”Biomekanikal Meyerhold”. Esensi dari konsep ini adalah ruang eksplorasi aktor yang bebas. I</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">a tidak menghendaki gerakan yang tertata hanya saja tetap naluriah. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Menurutnya, tubuh akan mengontruksi pikiran dan bukan sebaliknya.Karena tubuh akan lebih banyak merespon gejala sosial, politik, dan alam. Inilah yang Dia sebut sebagai konsep biomekanik Meyerhold.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Selain itu, ia memberi kesempatan interaksi penonton, panggung mendatar, dan teks lakon yang tidak patuh pada dramaturgi sastrawi. Menonton ”Bicaralah Tanah” maka penonton tidak akan melihat alur yang linear dan pemilahan aktor protagonis dan antagonis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Hemat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Teater Enam Bulan di Atas Perahu adalah karya yang digarapnya di Untirta. Ini adalah teater panjang selama 6 bulan. Setiap bulannya ada lima hari masa pementasan. Untuk pementasan ini ia membutuhkan 5000 batang bambu dan menyulap ruang kosong menjadi ruang pertunjukkan pola arena.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><span></span>Produksi teater Ndg. Aradea juga menganut anti pemborosan. Penggarapan teater selama 4-5 bulan tidak cukup lantas hanya ditampilkan 1-2 malam saja. Ia menginginkan </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">produksi produksi jangka panjang, misalnya sampai 10 tahun untuk satu naskah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Di harian ini pada 6 Maret 2003, Dia pernah menyatakan, bahwa sebuah kelompok teater punya produksi 4-5 naskah, sebenarnya sudah efektif dan hemat untuk dipentaskan. Anggap saja dalam setiap bulannya ada 2 atau 3 hari untuk pentas setiap naskah. Jika Ini dirancang untuk pementasan 5-10 tahun maka biaya artistik panggung, latihan, promosi hanya butuh dikeluarkan dalam produksi awal saja. Untuk selanjutnya paling tinggal biaya promosi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> “Saya ingin melihat aktor saya pada pertunjukkan 5 tahun mendatang dalam naskah ‘Bicaralah Tanah’. Mungkinkah ada pengembangan eksplorasi?” ujar kawan dosen yang berencan menuju Cina untuk mencangkok ginjalnya ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"> agus rakasiwi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';"><a href="mailto:kampus_pr@yahoo.com">kampus_pr@yahoo.com</a></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusnews.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusnews.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnews.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnews.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnews.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnews.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnews.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnews.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnews.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnews.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnews.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnews.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=12&subd=agusnews&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnews.wordpress.com/2007/08/08/teater-dan-pembebasan-ketertindasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd937e35d250de17233505f38b42fac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusnews</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnews.files.wordpress.com/2007/08/agus_bebeng__4_.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Awas Kau Tuan Tanah!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnews.files.wordpress.com/2007/08/agus_bebeng__6_1.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BIcaralah Tanah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnews.files.wordpress.com/2007/08/agus_bebeng__7_.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bicaralah Tanah_2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Di Kepalaku Berkecamuk Persoalan&#8221;</title>
		<link>http://agusnews.wordpress.com/2007/08/01/di-kepalaku-berkecamuk-persoalan/</link>
		<comments>http://agusnews.wordpress.com/2007/08/01/di-kepalaku-berkecamuk-persoalan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Aug 2007 11:55:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnews.wordpress.com/2007/08/01/di-kepalaku-berkecamuk-persoalan/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu buktinya ia pernah keliling kota dengan celana kolor dengan tubuh berbalur cat putih. Di dadanya tergantung tulisan &#8220;Damailah Bangsaku&#8221;. Waktu itu sedang marak kampanye pemilu 1997. 
&#8220;Aku hanya ingin menunjukkan lebih asyik damai ketimbang gelut(kelahi),&#8221; ujarnya.
Arman lahir dari keluarga sederhana nan bahagia di Kampung Cijoho, Desa Mekarsari, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=8&subd=agusnews&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salah satu buktinya ia pernah keliling kota dengan celana kolor dengan tubuh berbalur cat putih. Di dadanya tergantung tulisan &#8220;Damailah Bangsaku&#8221;. Waktu itu sedang marak kampanye pemilu 1997. <span id="more-8"></span></p>
<p>&#8220;Aku hanya ingin menunjukkan lebih asyik damai ketimbang <em>gelut</em>(kelahi),&#8221; ujarnya.</p>
<p>Arman lahir dari keluarga sederhana nan bahagia di Kampung Cijoho, Desa Mekarsari, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 20 april 1975. Arman merupakan anak ketujuh dari sembilan saudara.</p>
<p>Arman muda, bosan dengan kehidupan kampungnya. Ia bosan bangun pagi lalu pergi ke sekolah. Pulang sekolah, mampir <em>ngarit</em>di lahan orang. Sore hari <em>nongkrong</em>bersama teman-teman sebaya, lalu menjelang Magrib pergi ke tempat pengajian. Begitu seterusnya.</p>
<p>Ia berkelana ke Jakarta, Kota Garut, dan Bandung. Ia tinggal dan bekerja di Bandungsejak 1992 berbekal ijazah SMP. Ia pernah menjadi pengamen dan penjaga malam di STM Merdeka, Jln. Cikutra, Kota Bandung. Upah Rp 40 ribu sering dikirim ke ibunya di kampung.</p>
<p>Menurutnya, hal terburuk di dunia adalah menjadi penganggur. Penganggur berarti kalangan orang-orang yang tidak kreatif. Penuh ilusi dan kemalasan.</p>
<p>Perubahan terjadi pada dirinya pada 1994. Arman tidak sengaja bertemu pemuda bernama Ayi Kurnia. Ayi, yang dikenal sebagai aktor Bandung, mengajaknya masuk ke organisasi Teater Lakon UPI (waktu itu bernama Teater Mahasiswa IKIP Bandung).</p>
<p>Ayi pula yang memberi tambahan nama &#8220;Jamparing&#8221; yang berarti orang yang bekerja gesit dan tidak banyak omong. Sejak itu, Arman Sudaryana menjadi Armandjamparing.</p>
<p>&#8220;Waktu ditanya senior tentang idola teater kamu? <em>Urang</em>(aku-red.) jawab Jet Lee dan Arnold,&#8221; katanya terkekeh lepas.</p>
<p>Pertunjukan sebagai aktor teater pertama ketika memainkan naskah &#8220;Pinangan&#8221; karya Anton Chekov pada tahun 1996. Setelah teater, ia merambah di musik, tari, film, dan gambar.Ia pernah berperan sebagai pengedar narkoba dalam film &#8220;Luka&#8221; (2006) garapan Panji Siswanto, &#8220;Matahari Segi Empat&#8221; karya Helmi, dan &#8220;Sekat&#8221; karya Panji Siswanto. Dalam dunia gambar, ia sudah menghasilkan banyak karya dan pameran.</p>
<p>Dituding vandal</p>
<p>Pada 1 Januari 2002, Arman Cs, melaburi patung PDAM di Jln. Ir. H. Juanda, karya pematung Sunaryo, dengan cat. Tembok penyangganya, digambari, ditulisi dengan kata-kata dengan caci maki, seperti, &#8220;Peninggalan Orba, Viva Anarki&#8221;.</p>
<p>Aksi corat-coret ia lakukan pula terhadap Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Tugu yang biasa dipakai pacaran tersebut, ditulisnya dengan kata-kata &#8220;Monumen Arogansi&#8221; dan &#8220;Arogansi Kota&#8221;.</p>
<p>Aksinya dituding tindakan vandal. Tapi, Arman berlalu begitu saja dan membiarkan orang berbicara tentang dirinya. Ia terus beraksi. Aksi selanjutnya mencorat-coret salah satu papan reklame di Jln. Setiabudi, Kota Bandung.</p>
<p>Ia tulis &#8220;BandungKota Sampah&#8221; pada muka papan reklame itu. Kejadian ini dua tahun sebelum tragedi longsor sampah Leuwigajah, Kota Cimahi. Karena aksi itu ia sempat digiring polisi. Tapi, dilepas kembali.</p>
<p>Baginya, papan reklame itu juga sampah. Karena keberadaannya orang tidak bisa memandang arah utara. Selain itu, papan itu menjadi sampah pikiran yang mengajak orang untuk konsumtif.</p>
<p>Ia tidak sepakat dengan sebutan vandal. Baginya, vandal yang berbahaya seperti yang terpatri dalam pola pikir. Pikiran pemimpin Indonesiasudah banyak dipenuhi ide-ide merusak negerinya sendiri. Isi kepala orang sudah dipenuhi nafsu korupsi, membabat hutan, mencemari air dengan limbah, sibuk dengan kekuasaan, dan pikiran serakah lainnya.</p>
<p>Seorang mahasiswa pascasarjana Seni Rupa ITB, Hawe Setiawan, mengenal dekat karakter Arman. Menurutnya, tindakan itu adalah aktivitas estetik yang berangkat dari kepekaan sosial yang dimilikinya. Proses itu lahir dari lingkungan yang tak lain adalah negara yang ia tempati.</p>
<p>&#8220;Aku sering memerhatikan orang di pasar, di prostitusi, di jalan atau di mana pun. Untuk menyelami problem yang mereka rasakan,&#8221; kata Arman menambahkan.</p>
<p>Kepekaan itu tidak selamanya tertuang dalam aksi<em> performance.</em>Ada pula kritik Arman lewat karya <em>drawing</em>dan <em>painting</em>. Gambar dan <em>performance</em>, menurut Dia, adalah ekpresi dari persoalan yang menumpuk di kepala.</p>
<p>Akrab di lingkungan</p>
<p>Arman tinggal di sebuah gang di kawasan Cigadung Barat. Rumahnya dengan lapangan golf Dago hanya dibatasi selapis tembok setinggi orang dewasa. Di rumahnya ia tinggal dengan satu istri, satu anak, dan beberapa keponakan.</p>
<p>Arman memiliki ruangan kerja menggambar dua dimensi. Luasnya 3&#215;3 meter. Pengap, karena ventilasi hanya pintu masuk saja. Kalau pintu ditutup, hawa panas menyergap.</p>
<p>Dasar Arman berkarakter ekspresif, di tembok ruang itu banyak corat-coret. Ada kalimat &#8220;<em>Dead, Jail, or Rock &#8216;n Roll&#8221;</em>, dan beberapa kalimat lain tentang curahan hati yang sedang kesal.</p>
<p>Kamar itu sudah jarang ia pakai bekerja. Ia memilih kerja di teras rumah, sambil melayani orang yang menggunakan warung telefonnya. Kadang juga sambil main kelereng dengan bocah tetangganya.</p>
<p>Ia membiarkan orang lalu lalang saat sedang menggambar. Kadang ada jeda ketika orang bertanya tentang makna apa dari gambar orang bertubuh mesin dan berkaki seperti ayam jago. Ia tidak lantas gusar, malah mengajak si penanya berbincang lebih jauh tentang tema gambarnya.</p>
<p>&#8220;Itu asyik. Kalau ada orang yang bertanya, berarti ada proses mengenal lebih jauh,&#8221; kata bapak dari Lautmerah Jatina Arra yang masih balita.</p>
<p>Arman mengaku pernah pameran di Pasar Sukajadi. Kejadiannya tahun antara 1998-1999. Dia sengaja bermain di ruang publik agar seni tidak jauh-jauh dari masyarakat. Sama halnya ketika ia memainkan <em>performance art</em>di tengah-tengah keramaian orang. Ia ingin akrab dengan lingkungannya.</p>
<p>&#8220;Dia <em>nggak</em>sombong. Dia suka ngobrol. Suka tukar pikiran. Dan, saya kadang bertanya-tanya tentang seni,&#8221; ujar Bu Oom, tetangganya selama tujuh tahun.</p>
<p>Hawe mengatakan, itu tindakan mencari efek kejut dari masyarakat. Tanpa perlu basa-basi, ia menempatkan seni sebagai medium berkomunikasi dengan masyarakat yang luas. Ia mencoba membangun ajakan agar orang ikut andil dalam perbaikan sistem.</p>
<p>Arman adalah salah satu dari sekian seniman Bandung, yang menempatkan seni untuk masyarakat. Gagasan yang mirip dibangun oleh Maxim Gorkytentang realisme sosial. Gagasan ini memaknai kerja seniman adalah kerja yang tidak terpisah dari lingkungannya.***</p>
<p align="right">agus rakasiwi</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusnews.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusnews.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnews.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnews.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnews.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnews.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnews.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnews.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnews.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnews.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnews.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnews.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnews.wordpress.com&blog=1450200&post=8&subd=agusnews&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnews.wordpress.com/2007/08/01/di-kepalaku-berkecamuk-persoalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd937e35d250de17233505f38b42fac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agusnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>