celoteh


Bisa disebut tren, mahasiswa bekerja paruh waktu atau lepas. Namun, banyak mahasiswa yang bekerja berada dalam suasana ketidakpastian.

(lagi…)

Hitam-putih melintang di badan jalan. Seperti Kuda Zebra yang tengah tertidur di atas aspal hitam. Bukan di padang savana yang banyak rumput dan semak, zebra ini lebih banyak bergaul dengan motor, mobil, truk, becak, dan tapak kaki manusia.

(lagi…)

PADA 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1978, 1980, dan 1998, bukan deret angka matematika. Deret angka ini merupakan tahun kaum intelektual Indonesia bergerak. Mereka angkat tubuh dari kursi-kursi sekolah yang kaku dan keluar menjadi simbol perlawanan.

(lagi…)

PERISTIWA penting bagi mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba) terjadi pada bulan Puasa lalu. Pemilihan umum presiden mahasiswa di kampus tersebut, mahasiswa sama sekali tidak ikut serta. Apakah mahasiswa sudah tidak mau memilih wakil mahasiswa untuk BEM?

(lagi…)

Dari jam tiga siang sampai jam 8.30 malam, si bulan tidak kunjung bertamu ke rumah ku. kemana saja dia? Biasanya dia sudah nongkrong di atas rumah tiap jam 6 sore. Tapi hari Selasa (28/8) kemarin, nggak nongol seperti biasa.

(lagi…)

!7 Agustus bendera merah putih berkibar dimana-mana. Di kota, desa, kampung, gampoeng, nagari, sampai dusun di pedalaman hutan dan gunung semua orang Indonesia tahu tanggal itu berarti Indonesia berulang tahun.  Semua orang tahu pada jam 10 pagi, meriam berdentum, bedug bertalu, dan lonceng gereja berdentang 17 kali. Semua orang pun menyematkan kehormatan, kebanggaan di dada mereka.

Hari itu semua orang merdeka. Tidak ada pekerjaan yang mereka lakukan di kantor, tidak ada bos yang memerintak mereka membuat kopi. Presiden juga tidak menyuruh menterinya rapat kabinet. Pokoknya Merdeka!

Satu hari yang membahagiakan untuk berkumpul di tengah lapang. Adu tangkas dalam arena balap karung, adu cepat memakan kerupuk, dan adu kekuatan memanjat pohon pinang yang berlumur oli. Satu hari yang menyenangkan untuk joget bersama penyanyi dangdut nan seksi. Satu hari tanpa emosi, marah, dengki, frustasi dan depresi. Pokoknya bahagia!

Tapi kita memang cukup bahagia, senang, dan merdeka satu hari saja. Satu hari cukup untuk istirahat dari pekerjaan, stres, depresi, dan frustasi 365 hari. Setelah itu, mari pusing kembali. Pokoknya pusing!

Di Samarinda, orang sudah susah membeli minyak goreng. Di Bekasi orang susah mendapat minyak tanah. Di Jawa Barat, harga sembako melonjak naik. Orang lapar tetap saja lapar. Gelandangan tetap tidur di pinggir toko. Pelacur tetap saja menari di atas kenikmatan semu. Tetap saja susah!

Toh kemerdekaan cuma ritual satu hari. Cuma untuk mengenang mereka yang berdarah-darah kala revolusi fisik. Cuma untuk terkagum-kagum dengan pemimpin yang berani lantang mengatakan kata “Merdeka”.

Setelah satu hari, kita terpenjara lagi. Senyum ringai berganti dengan nafas kecut. Urat jidat kembali menegang.

Hidup Ilusi kemerdekaan!

Kawan saya yang juga senior saya di Pikiran Rakyat, romannya sih tidak menunjukkan kegelisahan atau kekesalan. Padahal dia sudah satu minggu ini tidak punya pekerjaan yang pasti di koran terbesar di Jawa Barat tersebut.

Ya, dia baru saja dicopot dari jabatan sebagai redaktur suplemen budaya Khazanah PR, seminggu lalu. Dia dicopot karena memuat sajak berjudul “Malaikat” karya Saepul Badar. Sajak itu, membuat geer kaum reaksioner yang mengatasnamakan agama Islam. Katanya, puisi itu mengejek sisi iman orang Islam yang percaya pada malaikat.

Tindakan mereka, menurut Saepul, sampai sering datang ke rumah dan marah-marah dihadapan Saepul. Tidak cukup dengan datang, sms dan telepon tak jelas identitas kerap mampir ke telepon pribadi Saepul. Edan ga sih?

Belum ada penelaahan tafsir. Dan lagi pula tafsir terhadap puisi tidak harus sama setiap orang. Tapi perbedaan tafsir bukan berarti berujung untuk menentang pikiran seseorang. Memang siapa mereka yang bisa menentang pikiran orang.

Kadang saya malu menjadi orang Islam. Bukan malu memiliki agama Islam. Menjadi orang Islam di Indonesia saat ini malah memiliki imej sebagai tukang teror, tukang hajar privasi orang lain, tukang demo sambil merusak milik publik, dan segala macam cara untuk memberi cap bahwa merekalah makhluk suci dihadapan Tuhan.

Kok Islam jadi berangasan kaya gitu ya? Apakah Orang Islam tidak pede dengan jati diri mereka sehingga mempergunakan segala cara demi nama penegakan syariat agama?

Saya jadi tidak habis pikir….kadang saya malu menjadi orang Islam.

Telat…ya, sepertinya telat untuk membicarakan narsis saat ini. Apalagi kalau terkait mengekspresikan diri lewat blog. Dua tahun sudah orang-orang mengenal blog, eh saya malah baru mempelajarinya waktu sekarang. Telat ga sih? hahahaha

Cuma ya ternyata bukan pada diri saya saja yang telat. Buktinya beberapa kawan di tempat nongkrong wartawan juga baru pada bikin blog. Pertanyaan sederhana tentang bagaimana membuat blog sampai hal tetek bengek ternyata masih kerap terdengar. Padahal orang-orang di sini sudah sering menulis tentang fenomen blog. Tapi ya itu, kadang rasa mencoba datang belakangan setelah membicarakan.

Ibarat komentator sepak bola, paling bisa ngomong tapi kalau disuruh maen bola ada yang tendangannya melenceng ke ruang ganti.

Itu sih wajar. Apalagi hidup di Indonesia yang banyak kata “maklum”. hahahaha

salam ah

« Halaman Sebelumnya