Ia seorang ketua ranting PDIP yang setiap saat dibutuhkan oleh orang kampung di tempat tinggalnya. Sebagai ketua partai, ia tampak menjadi tokoh paling penting. Paling tidak kehadirannya dibutuhkan saat ada orang melahirkan, kematian, kerja bakti dan lain-lain. Selain tentunya menjawab masalah pemilu. (lagi…)
Bandung
Maret 16, 2009
Politik Pemilu, Nyaring Seperti Kentut
Posted by agusnews under Bandung, celoteh, profile[5] Comments
Januari 26, 2009
Sekaleng Kenikmatan Semu
Gum, sebut saja seperti itu. Dia tinggal bersama teman-temannya di lorong jalan layang Kiara Condong, Bandung. Kadang pula ia mampir ke tepi rel kereta api Stasiun di seberang jalan layang. Kadang ia pula menggelosor di antara kaki-kaki kios jalanan.
Gum, tinggal sendiri dan lupa dimana orang tuanya hari ini. Lama sudah ia tidak berjumpa ibu yang melahirkannya. Tapi, ia tetap tinggal setia menunggu. Mimpinya, hanya satu; ibu datang menjemput.
”Naik pesawat. Nanti aku dijemput ibuku dengan pesawat,” ujarnya tenang.
Buk…sebongkah batu kecil mendarat di kepalanya. Tawa pun berderai dari teman-temannya yang mendengar. Apakah memang Gum sedang berkhayal tentang pesawat?
Ia masih duduk tenang. Kepalanya tertunduk. Ia naikkan kerah bajunya lalu mendongak lagi. Dari balik kausnya itulah gambaran pesawat dan ibunya datang. Sekaleng lem aibon, telah memberinya fantasi keyakinan tentang kegembiraan menaiki pesawat.
Bisa jadi memang ia tidak pernah naik pesawat. Bentuknya hanya pernah ia lihat melintas di balik awan. Saat ia tidur dan membekap kaleng ia melihat pesawat itu menjemput orang satu per satu dan membawanya terbang melintas langit.
Jika itu dikatakan mimpi, seharusnya ia bisa mewujudkannya. Mimpi yang sepatutnya bisa ia raih seperti yang dialami anak-anak seusia lainnya. Ia bisa saja naik pesawat itu jika ia tetap di rumah dan menjalankan kewajibannya sebagai anak; sekolah.
Tapi apa yang dipikirkan seperti itu jauh dari logika yang dikonstruksi saat ini. Gum cerminan generasi yang lahir dari kapitalisme rente. Ia harus berusaha sendiri. Inilah ciri manusia yang lahir setelah revolusi industri di Inggris. Kerja demi memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Setiap orang berlomba mencari penglebihan sehingga hidup akan lebih enjoy.
Orang yang tidak bekerja akan diberi senyum dan perkataan nyinyir; Pemalas. Apakah Gum seorang pemalas? Ibunya pun tidak tahu apa yang dilakukan Gum sekarang. Ia luntang-lantung mencari kapital. Ia digunakan untuk mengamen di tiap lampu merah.
Kadang di antara mobil yang memberinya receh, ada tangan kecil menjulurkan uang dari balik jendela mobil. Sang pemberi itu cantik dalam pakaian putih-merahnya. Gum tidak sekolah. Ia mesti kerja. Terus bekerja dan melupakan mimpi lain tentang sekolah. Mimpi lainnya ikut kandas, termasuk naik pesawat, ketika sekolah tak diselesaikan.
Tapi Gum masih ingin bermimpi. Tapi sekedar mimpi pisang goreng saja terlalu susah. Di jalan ia cukup kenyang dengan omelan, makian, dan cacian. Dalam kondisi sadar ia tidak mungkin melakukan aktivitas mimpinya.
Tubuhnya butuh rangsangan untuk relax. Sama seperti Roy Marten, artis Indonesia kenamaan, yang butuh psikotropika sekelas shabu untuk membuatnya relax dari dunia film.
Gum tidak punya modal sekelas Roy. Jadilah, cukuplah satu kaleng. Sekaleng kenikmatan yang dinilai Freud sebagai angan bawah sadar yang dipaksa bangkit. Bangkit karena akalnya sudah berhenti mimpi akibat beban kerja seorang yang bertumbuh.
Setidaknya, Gum, masih menjalani kata-kata Albert Camus untuk tetap bisa bermimpi. Dengan mimpi ia masih bisa hidup. Tapi, seberapa lama ia bisa hidup dalam arti harfiah? Mengutip Freud, kepenatan dan tekanan psikologis sudah bisa mematikan jiwanya sedari lama.
Tapi kualitas barang sekelas Roy dan sekelas Gum sama-sama hanya ingin meluapkan kesadaran yang terkekang. Hanya untuk melawan. Melawan siapa? Sistem sosial-ekonomi di sekitarya atau teman-teman yang melempari Gum dengan batu?
Lantas siapa yang harus bertanggung jawab?
Januari 23, 2009
Jarum panjang di jam tanganku menunjukkan pukul 07.15 wib. Hari yang lain dari biasanya aku bangun. Maklum, buat kalong biasanya enak bangun jam 10 teng..:)
Tapi hari ini bukan bangun pagi yang harus disalahkan. Tapi resah, gelisah yang didapat di pagi hari. Saat memacu motor di jalan raya, kok rasanya sedang berada di arena sirkuit Sepang ya…
Semua motor dan mobil seperti tidak punya rem. Atau memang sudah tidak pasang kanvas remnya. Gila, saling salip terjadi….cit cat ciiiittt, brukkk, ada sebuah motor masuk lubang dan hampir oleng menghantam trotoar.
Tapi sepertinya sang pengemudi sudah lihai…secepat kilat bantingan setirnya mengembalikan posisi motor dalam keadaan stabil
Hebat!!!
Yah…buat orang yang sering jalan keluar jam 11 siang, rasanya ini pengalaman pertama. Aneh bin ajaib, gerakan orang Bandung semakin beringas.
Kesan itu bertambah nyata saat di lampu merah. Jelas-jelas indikator lampu masih merah, tapi klakson bunyi dimana-mana. Saya kira mereka sedang tes volume klaksonnya. Ternyata mereka ingin berada paling depan. Kalau bisa melewati garis zebra cross…
“jiancuk..asu…kampret,” umpatku
orang yang aku umpat malah memasang wajah lempeng dan memaksakan motornya maju lebih depan.
apa yang mesti aku lakukan? sayang terlalu dini menghajar orang seperti itu.
Sesaat indikator menjadi kuning. raungan gas bertambah keras dan deru klakson menjadi-jadi. Bah…macam sedang mau beradu speed di sirkuit.
Saat hijau, semuanya menarik gas dan berlomba bak The Doctor. Wuihh pemandangan yang amat dasyat saat itu.
Jadi apa sih manusia di jalan ini? kalau sudah kecelakaan pasti sakit.
betul saja, malam hari saat mengerjakan tulisan di kantor terdengar suara tumbukan teramat keras. Ditambah gesekan ban yang amat memekkkan telinga. Seseorang dihajar oleh Seseorang lain. Motor dihajar mobil di perempatan.
Kok Bisa? Yah sangat bisa, karena si pengendara mengakui dia hendak menerabas indikator merah di perempatan…upss siapa yang salah?
Orang gila pun bisa menjawab, sang motorlah yang salah…
Begitulah sang pembalap di trek umum. RSHS Jadi lokasi pemberiaan hadiah
Agustus 28, 2008
Salam
sebenarnya harus seperti apa sikap kita terhadap lingkungan di sekitar Daarut Taubah ( Atau yang lebih dikenal sebagai saritem. Lokalisasi terbesar dan terkenal di kota Bandung) ?
sepertinya dibukanya mereka tidak menjadi masalah. Ternyata ditutup pun tidak masalah. Yang masalah adalah ketika mereka jadi korban politik. Dibuka saat kampanye. diudak dan ditutup saat kekuasaan sudah berada di genggaman tangan..
Agustus 26, 2008
Sanggar Seni “Baksil” Direlokasi ke Jln. Tamansari Pemkot Tunggu PT EGI Lakukan Revitalisasi
Posted by agusnews under Bandung, celoteh, media massa1 Comment
BANDUNG, (PR).-
Sanggar seni di Babakan Siliwangi (Baksil), Kota Bandung diminta segera pindah ke Pasar Seni, Jln. Tamansari, yang telah selesai dibangun PT Esa Gemilang Indah (PT EGI). Permintaan pindah itu, terkait projek pembangunan rumah makan oleh PT EGI akan segera dimulai. Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, H.M. Askary mengatakan hal itu, saat ditemui di sela-sela pembukaan Festival Kuliner India di Hotel Horison, Bandung, Senin (25/8).
Februari 6, 2008
ANGKA 24 menoreh sejarah baru di Indonesia. Cita-cita perubahan dan tuntutan rasa keadilan sirna dalam ruang frekuensi di Indonesia. Efeknya merambat pada opini umum masyarakat. Bingkainya cukup untuk mengajak publik tidak perlu kritis menimbang persoalan bangsa ke depan.
Angka itu berarti 24 hari Soeharto menjadi sarapan utama media massa Indonesia dan obrolan panas warung kopi. Selain itu, angka tadi berarti 24 jam layar televisi Indonesia hanya menyiarkan wajah almarhum dan prestasi keluarga Cendana. Rakyat Indonesia dibawa pada era romantisme tentang orde keberhasilan ekonomi dan politik, harga murah, dan suasana politik stabil.
Sementara itu, kelompok masyarakat yang merasa piutang keadilannya belum terbalas, merekam momen itu sebagai penyimpangan terhadap amanat Tap. MPR No.XI/MPR/1998 tentang pengusutan kasus-kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) Soeharto dan kroni-kroninya. “Media massa akhir-akhir ini menjadi tidak profesional,” ujar aktivis mahasiswa dari Front Mahasiswa Nasional, Dewi.
Ruang publik telah didominasi oleh kepentingan untuk memberi citra positif dan melupakan persoalan korupsi dan kejahatan HAM. Cukup tataran nilai maaf-memaafkan semata dan persoalan selesai. Sementara itu, bagi masyarakat yang pernah mengalami masa pahit di era Orde Baru dimohon untuk “melupakan” sejenak karena tokoh yang sering dihujat itu sudah berpulang sebagai pahlawan. Sebagaimana lagu gugur bunga yang senantiasa diputar sejak 24 Januari 2008.
Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Deddy Mulyana, pada harian ini menulis, upacara kematian dan pesan yang disampaikannya, menunjukkan upacara kematian menegaskan kembali tempat manusia dalam masyarakat, keluarga, persahabatan, dan dalam cinta. Hal itu juga menegaskan kembali jati diri manusia, kekhususan hidupnya, kesenjangan yang ia tinggalkan dalam kehidupan orang lain.
Media massa dan ungkapan kepala negara, bahwa Soeharto adalah pahlawan, kata Dewi, merupakan pengingkaran terhadap amanah yang telah disampaikan mahasiswa 10 tahun lalu.
Walaupun begitu, Reza Fathurrahman, Presiden BEM Unpad dan Koordinator BEM se-Bandung Raya, dan Ngatifudin Firdaus dari Keluarga Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, berharap masyarakat tidak terlalu berpengaruh dengan pemberitaan media massa tentang Soeharto. Pada pokoknya, persoalan korupsi dan pelanggaran HAM yang pernah terjadi selama 32 tahun rezim Soeharto tetap harus diselesaikan.
“Sebagai manusia kami memaafkan, tapi proses hukum terhadap dirinya tidak boleh berhenti,” kata Ngatifudin saat dihubungi beberapa waktu lalu.
Genderang pemberitaan yang terjadi saat ini dinilai kalangan mahasiswa tidak objektif dan tidak proporsional. Padahal, kamus umum jurnalisme mengatakan objektivitas sebagai syarat pemberitaan.
Tidak cuma objektif
Santi Indra Astuti, pengajar Ilmu Komunikasi dari Universitas Islam Bandung, memberi pandangan berbeda. Menurutnya, perilaku pekerja media massa selama pemberitaan Soeharto bukan hanya persoalan objektivitas. Akan tetapi, profesionalisme dalam bekerja pun tidak digubris pekerja media massa.
Selama 24 hari, di layar televisi, tontonan perselisihan antarjurnalis karena desak-desakan sempat terjadi. Jurnalis memecahkan kaca rumah sakit pun terjadi. Bahkan, kesalahan data laporan dan tata bahasa yang berantakan pun terjadi. Situasi yang mereka buat rusuh itu tak ayal membuat diri jurnalis celaka, seperti seorang reporter yang nyaris tertabrak mobil lain karena mengejar mobil ambulans yang disangkanya membawa Soeharto.
Kalau begitu, bagaimana dengan pelajaran tentang media massa sebagai garda perubahan sosial? Mahasiswa bisa belajar banyak selama 24 hari dan 24 jam dari rekaman media massa tentang kematian Soeharto.***
Februari 6, 2008
Salam Independen!
Per Tanggal 15 Januari 2008, PT Radio Mara Ghita Bandung menutup sektor Redaksinya karena alasan keuangan serta rating yang buruk. Apapun alasannya, penutupan Redaksi tentunya menyebabkan sejumlah rekan sejawat kami, para jurnalis yang setiap hari menjadi kawan kerja di lapangan selama beberapa tahun terakhir, harus kehilangan nafkahnya. Untuk itu, AJI Bandung menyatakan prihatin atas penutupan Redaksi Radio Mara.
AJI Bandung, sebagai organisasi yang juga peduli pada masalah hubungan industrial pekerja media, menyayangkan keputusan PHK mendadak dari manajemen PT Radio Mara Ghita Bandung, setidaknya berdasarkan penuturan sejumlah teman mantan Redaksi Radio Mara kepada AJI Bandung.
Hal ini harus menjadi pelajaran bagi seluruh pengelola media, karena menurut UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 151, seharusnya, manajemen tidak mengambil opsi PHK sebagai jalan keluar pertama, melainkan melakukan pemotongan Gaji Komisaris dan Direktur serta Manajer untuk memotong Overhead. Selanjutnya, memotong biaya perjalanan dan fasilitas kemewahan para pejabat perusahaan, kemudian memberi pensiun dini pada pekerja yang sudah dekat usia pensiun, lalu merumahkan sejumlah pekerja yang tidak berhubungan langsung dengan core business, baru kemudian jika overhead masih lebih besar dari pendapatan, PHK dapat dilakukan [Surat Edaran Menakertrans Nomor SE 907/Men/PHI/ X/2004].
AJI Bandung menyayangkan proses PHK yang dilakukan tanpa berdasarkan musyawarah untuk mencapai mufakat. AJI Bandung juga meminta seluruh pengelola media TIDAK menerapkan pola hubungan industrial untuk waktu tertentu (KWT) yang lebih dikenal dengan system kerja kontrak atau borongan kepada redaksi.
AJI Bandung berharap agar monopoli lembaga Rating AGB Nielsen diimbangi lembaga independent yang terbuka, sehingga tidak menyebabkan program acara yang bermutu di lembaga penyiaran swasta, kesulitan iklan, seperti program berita.
Ketua AJI Bandung Divisi Advokasi dan Serikat Pekerja AJI Bandung
Agus Rakasiwi Ahmad Yunus
Februari 6, 2008
Parade Sirkus Media Massa Meliput Soeharto
Posted by agusnews under Bandung, celoteh, media massaLeave a Comment
Salam Independen!
AJI Bandung ikut berbelasungkawa dengan meninggalnya Presiden Ke-2 Indonesia, Soeharto.
Jurnalis histeris melihat kejadian Soeharto sakit dan akhirnnya meninggal sehingga menafikkan profesionalisme dan etika sebagai jurnalis. Contohnya, tontotan perkelahian antar jurnalis di lobi RSPP, lalu aksi dorong-mendorong yang memecahkan kaca di lobi dan kesalahan data dalam pelaporan.
Perilaku jurnalis tidak profesional itu tidak hanya merugikan publik yang ingin mendapatkan informasi dengan akurat, tapi menghambat publik yang memiliki hak mencari layanan kesehatan atau sedang menjalani proses perawatan di rumah sakit tersebut.
AJI Bandung menyesalkan ketidakprofesionalan jurnalis tersebut. Dan, menurut kami, hal ini terjadi karena pola rekrutmen yang terlalu sederhana untuk jadi reporter sehingga persoalan teknis dan etika kadang terlewatkan.
Seharusnya desak-desakan yang terjadi selama di RSPP dan di Cendana tidak perlu terjadi jika perusahaan menyediakan peralatan liputan yang layak untuk para jurnalis. Misalnya, untuk jurnalis radio mereka seharusya memiliki boomer untuk merekam suara. Dan, para jurnalis televisi seharusnya memiliki peralatan kamera yang lebih canggih untuk merekam gambar dari jauh.
Karena itu, AJI Bandung meminta manajemen media lebih memperhatikan kebutuhan teknis reporter lapangan serta menjamin independesi redaksi bahkan dari pengaruh pemilik media sendiri, sesuai amanat Undang-undang Penyiaran.
Selain itu, AJI Bandung juga menyesalkan bingkai media massa selama 24 jam terakhir. Konglomerasi media massa di Indonesia telah mengantarkan publik untuk melupakan tragedi selama 32 tahun kekuasaan Soeharto. Produk televisi saat ini hanya untuk menonjokan pencitraan positif keluarga Cendana dan cenderung mengesampingkan kasus hukum Soeharto. Ini berarti, reformasi 10 tahun untuk menegakkan hukum telah dibelokkan media massa dalam liputan mereka. Tentu ini bukan bahan pelajaran yang bagus di masa mendatang.
Parade sirkus media massa ini, telah mendorong masyarakat Indonesia tidak kritis terhadap persoalan bangsanya sendiri. Parade sirkus media ini telah menafikkan hukum sebagai pilar negara.[]
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandung
Agus Rakasiwi
Februari 6, 2008
Without labour nothing prospers. (Sophocles)
Februari 6, 2008
Bisa disebut tren, mahasiswa bekerja paruh waktu atau lepas. Namun, banyak mahasiswa yang bekerja berada dalam suasana ketidakpastian.