Sekaleng Kenikmatan Semu
Gum, sebut saja seperti itu. Dia tinggal bersama teman-temannya di lorong jalan layang Kiara Condong, Bandung. Kadang pula ia mampir ke tepi rel kereta api Stasiun di seberang jalan layang. Kadang ia pula menggelosor di antara kaki-kaki kios jalanan.
Gum, tinggal sendiri dan lupa dimana orang tuanya hari ini. Lama sudah ia tidak berjumpa ibu yang melahirkannya. Tapi, ia tetap tinggal setia menunggu. Mimpinya, hanya satu; ibu datang menjemput.
”Naik pesawat. Nanti aku dijemput ibuku dengan pesawat,” ujarnya tenang.
Buk…sebongkah batu kecil mendarat di kepalanya. Tawa pun berderai dari teman-temannya yang mendengar. Apakah memang Gum sedang berkhayal tentang pesawat?
Ia masih duduk tenang. Kepalanya tertunduk. Ia naikkan kerah bajunya lalu mendongak lagi. Dari balik kausnya itulah gambaran pesawat dan ibunya datang. Sekaleng lem aibon, telah memberinya fantasi keyakinan tentang kegembiraan menaiki pesawat.
Bisa jadi memang ia tidak pernah naik pesawat. Bentuknya hanya pernah ia lihat melintas di balik awan. Saat ia tidur dan membekap kaleng ia melihat pesawat itu menjemput orang satu per satu dan membawanya terbang melintas langit.
Jika itu dikatakan mimpi, seharusnya ia bisa mewujudkannya. Mimpi yang sepatutnya bisa ia raih seperti yang dialami anak-anak seusia lainnya. Ia bisa saja naik pesawat itu jika ia tetap di rumah dan menjalankan kewajibannya sebagai anak; sekolah.
Tapi apa yang dipikirkan seperti itu jauh dari logika yang dikonstruksi saat ini. Gum cerminan generasi yang lahir dari kapitalisme rente. Ia harus berusaha sendiri. Inilah ciri manusia yang lahir setelah revolusi industri di Inggris. Kerja demi memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Setiap orang berlomba mencari penglebihan sehingga hidup akan lebih enjoy.
Orang yang tidak bekerja akan diberi senyum dan perkataan nyinyir; Pemalas. Apakah Gum seorang pemalas? Ibunya pun tidak tahu apa yang dilakukan Gum sekarang. Ia luntang-lantung mencari kapital. Ia digunakan untuk mengamen di tiap lampu merah.
Kadang di antara mobil yang memberinya receh, ada tangan kecil menjulurkan uang dari balik jendela mobil. Sang pemberi itu cantik dalam pakaian putih-merahnya. Gum tidak sekolah. Ia mesti kerja. Terus bekerja dan melupakan mimpi lain tentang sekolah. Mimpi lainnya ikut kandas, termasuk naik pesawat, ketika sekolah tak diselesaikan.
Tapi Gum masih ingin bermimpi. Tapi sekedar mimpi pisang goreng saja terlalu susah. Di jalan ia cukup kenyang dengan omelan, makian, dan cacian. Dalam kondisi sadar ia tidak mungkin melakukan aktivitas mimpinya.
Tubuhnya butuh rangsangan untuk relax. Sama seperti Roy Marten, artis Indonesia kenamaan, yang butuh psikotropika sekelas shabu untuk membuatnya relax dari dunia film.
Gum tidak punya modal sekelas Roy. Jadilah, cukuplah satu kaleng. Sekaleng kenikmatan yang dinilai Freud sebagai angan bawah sadar yang dipaksa bangkit. Bangkit karena akalnya sudah berhenti mimpi akibat beban kerja seorang yang bertumbuh.
Setidaknya, Gum, masih menjalani kata-kata Albert Camus untuk tetap bisa bermimpi. Dengan mimpi ia masih bisa hidup. Tapi, seberapa lama ia bisa hidup dalam arti harfiah? Mengutip Freud, kepenatan dan tekanan psikologis sudah bisa mematikan jiwanya sedari lama.
Tapi kualitas barang sekelas Roy dan sekelas Gum sama-sama hanya ingin meluapkan kesadaran yang terkekang. Hanya untuk melawan. Melawan siapa? Sistem sosial-ekonomi di sekitarya atau teman-teman yang melempari Gum dengan batu?
Lantas siapa yang harus bertanggung jawab?
April 6, 2009 at 9:23 am
anjrit…
tulisanny keren, man…
Juli 17, 2009 at 4:29 am
nice info
September 25, 2009 at 10:58 pm
boleh juga..