Hitam-putih melintang di badan jalan. Seperti Kuda Zebra yang tengah tertidur di atas aspal hitam. Bukan di padang savana yang banyak rumput dan semak, zebra ini lebih banyak bergaul dengan motor, mobil, truk, becak, dan tapak kaki manusia.

Entah kenapa pengurus lalu lintas darat menggunakan jasa zebra di badan jalan. Padahal binatang ini tak pernah ada sejarahnya berada di jalan raya sambil tidur-tiduran. Atau pernah adu lomba lari di jalan aspal. Dimanapun di dunia ini belum pernah dengar ada zebra yang seperti itu. Cuma pernah nonton film kartun, dimana zebra ingin lari dari kebun binatang di Amerika Serikat dan pergi ke pulau yang berdanau dengan hamparan rumput hijaunya.

Oke cukup melanturnya. Saya bukan mau membahas sejarah Zebra di jalan raya. Tapi orang yang menggunakan jasa dia di ibukota, di jalan propinsi, kabupaten, kecamatan dan mungkin di depan kantor desa.

Sebuah pertanyaan, pernahkah kita berada di garis putih-hitam itu ketika menyebrang jalan? atau pernahkah kita menghentikan kendaraan ketika seseorang melintas di garis hitam-putih itu?

Orang yang melintas memang cukup sering sekarang. Tapi kok orang berkendara yang melihat orang melintas di hitam-putih tak cukup sadar.

Setiap hari di jalan dan terus memperhatikan orang berkendara atau menyebrang kadang bikin kesal hati. Kalau saja saya berhenti di garis batas si zebra, lantas orang di belakang saya begitu kencang membunyikan klakson. Mungkin pikirnya lebih baik tabrak saja orang yang melintas daripada telat masuk kantor.

Kalau sudah seperti itu, yang keluar paling umpatan..”Gandeng Koplok!” Setelah itu jalan lagi dan orang yang diumpat langsung tancap gas dan kembali hampir melindas orang yang menyebrang. So Stupid Doesn’t Play!

Tapi tidak selamanya para penyebrang jalan bertingkah bak orang berpengetahuan lalu lintas yang baik.

Bisa jadi fasilitas jalan yang paling sepi dilalui adalah jembatan penyebrangan. Fungsi utamanya sebagai fasilitas pejalan kaki tidak terlalu populer. Fungsinya malah sebagai media iklan sebesar-besar bagong…. Paling banter gelandangan yang mencari tempat untuk berbaring…atau fotografer yang kebelet mengejar foto gaya nge-blur aktif menggunakan jembatan.

Saya sering kesal jika melewati Jl. Asia-Afrika depan Kantor Pos Indonesia. Pejalan kaki lebih suka menyebrang di bawah jembatan daripada melaluinya. Padahal lalu lintas di sana padat dan banyak kendaraan yang memacu gas di kecepatan tinggi. Apa mungkin para penyebrang punya nyawa sembilan buah. Atau hanya malas untuk menggerakkan kakinya ke anak-anak tangga jembatan.

Aduh orang Indonesia memang agak absurd. Dan termasuk juga saya yang hidup di tengah-tengah orang absurd.