PADA 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1978, 1980, dan 1998, bukan deret angka matematika. Deret angka ini merupakan tahun kaum intelektual Indonesia bergerak. Mereka angkat tubuh dari kursi-kursi sekolah yang kaku dan keluar menjadi simbol perlawanan.
Tahun 1908 merupakan momentum aktifnya gerakan pelajar dari Budi Utomo. Tahun 1928, para pemuda Indonesia berkumpul dan menghasilkan deklarasi Sumpah Pemuda yang intinya menyatakan persatuan seluruh rakyat dan antikolonial. Lalu 1945, pemuda-pemuda mendorong para politisi muda seperti Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Tahun 1966, dianggap momen sejarah yang gemilang bagi mahasiswa Indonesia karena berhasil menggulingkan kekuasaan Soekarno. Kemudian 1974 dan 1978, mahasiswa mulai “merongrong” kekuasaan Orde Baru. Memasuki 1980-an, mahasiswa mulai aktif terlibat di gerakan-gerakan rakyat.
Mahasiswa menemukan tanggalnya pada Mei 1998. Karena kenaikan harga-harga, inflasi yang tinggi, dan kematian mahasiswa Trisakti, jumlah mahasiswa yang menggugat membesar dan mulai menduduki gedung MPR/DPR. Sorak-sorai menggema ketika Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden pada 21 Mei 1998.
Akan tetapi, ada yang menarik dan terus menjadi perdebatan di kalangan aktivis mahasiswa. Gerakan yang lahir dari dalam kampus dan luar kampus itu terus-menerus menjadi tim pemukul. Tetapi, hasil pukulan mereka kembali teredam ketika muncul pihak lain yang mengambil alih kekuasaan.
Mahasiswa berperan sebagai gerakan pemukul sejak 1908 sampai 1998. Aksi mahasiswa yang banyak menelan korban luka-luka dan meninggal itu, selalu “kalah” dengan kekuatan kelompok lain.
Menjelang pemilu tahun 2004, aktivis mahasiswa mulai dihadapkan pada wacana untuk meneruskan agenda poltiknya dengan memasuki partai politik.
Namun, ada beberapa lainnya yang tetap bertahan di garis massa; buruh dan petani. Sedangkan mahasiswa-mahasiswa yang masih berada di kampus terus bergerak ke sana kemari merespons persoalan-persoalan politik nasional. Gerakannya timbul tenggelam bergantung pada isu-isu di media massa.
Gerakan mahasiswa sampai saat ini masih diyakini sebagai gerakan politik nilai. Ia menjaga nilai-nilai keadilan, demokrasi, hak asasi, dan kepentingan rakyat tertindas. Meski bergerak, mahasiswa tidak pernah mau ambil kekuasaan. Revolusi Paris 1968 telah memberikan bukti itu ketika ribuan mahasiswa pada Mei 1968 berhasil menguasai Paris, namun membiarkan partai politik mengambil keuntungan dari gerakan mereka.
Gerakan setelah tahun 1998, dianggap melempem. Aksi mahasiswa di jalan dianggap pembuat kemacetan. Masalah lainnya, mahasiswa di kampus terpecah belah dalam beberapa kepentingan dan golongan. Mahasiswa seharusnya membaca kembali sejarah. Membacanya tidak dengan kacamata kuda. Bukan membuat ulangan sejarah, tetapi membuat sejarah baru dari pelajaran tahun-tahun tadi. ***
*Dimuat di Pikiran Rakyat, 18 Oktober 2007
Desember 8, 2007 at 4:02 am
penghianatan terbesar adalah
pengulangan sejarah
Desember 20, 2007 at 11:26 am
betul sekali. mengulang sejarah artinya tidak pernah belajar dari sejarah.
Desember 24, 2007 at 12:40 am
well kapan yah kita bener2 belajar dan maju? bukannya belajar dan mengulang kembali kesalahan yg sama.
Desember 25, 2007 at 3:15 pm
saha sih anu nentukeun tahun-tahun eta?
sebagai jalma nu mulai kuliah 97, urang protes euy….
Januari 11, 2008 at 6:50 am
setelah 1998 melempem, bukannya gerakan mahasiswa juga didorong olhe momentum dari suatu dinamika di masyarakat? nggak bisa dibilang melempem dong