-Cucu Saidah-
MEMBANGUN harga diri, menyadari apa yang dibutuhkan, berani mengungkapkan idenya, dan mau melakukan idenya. Mereka menyebutnya sebagai aksi-aksi kecil dibanding dengan demonstrasi turun ke jalan. Menurut mereka, demonstrasi bisa saja dilakukan untuk mendorong advokasi kebijakan di wilayah pemerintah. Namun, advokasi kebijakan tidaklah akan berjalan mulus seandainya amunisi pasukan belum pula cukup.
Kira-kira begitu rangkuman strategi yang tengah dipersiapkan Bandung Independent Living Center (Bilic). Bilic adalah salah satu organisasi yang bertujuan menyelesaikan kompleksitas penyandang cacat di Kota Bandung.
Awalnya, Bilic merupakan forum diskusi aksesibilitas yang memulai kegiatannya 25 Maret 2003. Kegiatan diskusi dilakukan bersama akademisi arsitektur dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga memiliki perhatian terhadap masalah aksesebilitas kota, terutama pada sarana fisik kota. Contohnya, sarana jalan, transportasi, gedung-gedung pemerintah dan swasta, serta penataan lingkungan yang ramah terhadap semua orang.
Pada saat itu, forum tersebut bernama Wahana Peduli Aksesibilitas Bandung (WPAB). Wadah itu lantas melakukan kegiatan pertama dengan melihat-lihat fasilitas publik. Mereka dokumentasikan dan dipakai sebagai bahan kampanye tentang aksesibilitas. Kegiatan tersebut berlangsung Juni 2003.
“Ada banyak komunitas di sana. Kira-kira 40 orang mahasiswa dan umum yang ikut terlibat dalam kegiatan waktu itu,” kata Cucu Saidah (32), Ketua Badan Pembina Bilic.
WPAB lantas berganti nama menjadi Bilic 13 Juli 2003. Mengutip situs Mitranetra, pergantian nama itu ditujukan agar organisasi tersebut dapat lebih melayani kebutuhan penyandang cacat secara luas dan menyeluruh, serta untuk mewujudkan hak hidup mandiri bagi mereka.
Dengan tujuh orang aktivis, Bilic melangsungkan kegiatannya di salah satu rumah di kawasan Pasirhuni, Kota Bandung. Rumah tipe 36 itu sejatinya bersatu dengan kediaman pribadi Cucu sendiri. Ruangan kerja mereka kira-kira seluas 4 x 4 meter persegi.
Lewat empat tahun sejak didirikan, lantas apa saja yang telah dilakukan Bilic terhadap kawan-kawan penyandang cacat di Kota Bandung? Berikut petikan wawancara Kampus dengan Cucu Saidah yang berlangsung Sabtu, (15/9).
Upaya perjuangan penyandang cacat di Kota Bandung sebenarnya memiliki konsep seperti apa? Dan apakah konsep itu sendiri sudah menemukan jalan terang sehingga mudah untuk diwujudkan?
Sebelum 2003, saya mendapat kesempatan belajar ke Jepang. Di sana saya mendapat pemandangan kota yang amat berbeda dengan negeri yang kita tinggali sekarang. Sebagai orang yang juga memiliki cacat, saya benar-benar tercengang dengan fasilitas kota yang memudahkan penyandang cacat beraktivitas.
Namun, itu bukan berkah yang diterima begitu saja. Sejarahnya sekitar 35 tahun yang lalu, di Jepang ada sekolompok penyandang cacat karena gangguan di otak kecil sehingga motorik terganggu. Mereka berdemo besar-besaran sampai terbaring di tengah jalan dan rel. Gerakan ini kencang sekali dan bersatu di mana-mana.
Gerakan itu dipadu pula dengan upaya belajar ke Amerika Serikat. Dengan beasiswa belajar, mereka berangkat ke Amerika Serikat untuk mempelajari pola gerakan di sana. Gerakan itu menghasilkan Center for Independent Living 1989. Mulai dari situ program awalnya juga ringan yaitu diarahkan ke penyandang cacat. Mereka berusaha mengubah cara pandang dan perspektif penyandang cacat terhadap dirinya sendiri dulu.
Di Amerika sendiri, gerakan paling kuat sekitar 1972, ditandai adanya Center for Independent Living pertama di Amerika. Gerakan itu dimotori oleh seorang penyandang cacat polio yang cukup berat.
Gerakan di Amerika sendiri baru 1990 melahirkan American with Disabilities Act. UU antidiskriminasi itu membawa perubahan ke wilayah pendidikan dan ketenagakerjaan. Semua fasilitas publik dan privat harus aksesibel, karena kalau tidak bisa dituntut ke pengadilan.
Dari dua gerakan di atas, sebenarnya bukan sekadar gerakan untuk kepentingan penyandang cacat semata. Konsep independent living itu sebenarnya konsep terbuka untuk semua orang yang ada di dalam suatu wilayah. Maksudnya, jika setiap kota menyediakan fasilitas yang aksesibel maka semua orang bisa menikmati dengan nyaman.
Konsep ini bagi pembangunan fisik, sebenarnya mengarah pada konsep universal design. Fasilitas trotoar yang dibangun dengan kelandaian tertentu dan rata tentu bermanfaat untuk semua orang. Tidak sulit untuk tempat berjalan perempuan bersepatu hak tinggi dan tidak sulit bagi pemakai kursi roda.
Konon konsep seperti itu membutuhkan biaya yang mahal dan teknologi canggih. Bagaimana menurut Cucu? Apakah memang betul seperti itu?
Jepang memang memiliki teknologi yang sudah tinggi. Tapi, sebenarnya bukan di situ letak persoalannya. Letaknya adalah pada kemauan pemerintah dan masyarakat untuk mau memulai sejak awal. Misalnya, dalam hal pembangunan jalan saja, kenapa tidak dimulai dengan trotoar yang landai dan tidak dipergunakan untuk berdagang kaki lima?
Masalahnya bukan hanya pada kebijakan, tetapi berkaitan dengan sikap masyarakat yang juga belum menyadari hal ini. Para penyandang cacat sebenarnya bagian dari masyarakat. Namun, persepsi cacat itu juga terbentuk berdasarkan permasalahan sosial dan kultur yang berkembang.
Kami sebenarnya mulai melakukan banyak kampanye pada masyarakat. Minimalnya dari memberi pengertian yang benar tentang siapa itu penyandang cacat. Jangan sampai kita berpikir sempit bahwa aksebilitas hanya untuk penyandang cacat. Padahal, kalau itu dilakukan ada manfaatnya untuk semua orang.
Jadi mana dulu yang memiliki prioritas untuk diberikan penyadaran tentang konsep tadi?
Kedua-duanya yaitu pemerintah dan masyarakat. Tapi, di Bilic prioritas diberikan pada penyandang cacatnya dulu. Karena, omong kosong kalau kita menuntut pemerintah dan masyarakat, tapi kami belum berubah.
Maksudnya, Bilic memberi perhatian terhadap peningkatan harga diri dan kemandirian terhadap penyandang cacat itu sendiri. Karena, kami tidak bisa bergerak andaikata kami belum menyadari siapa sebenarnya kami. Harus diingat bahwa seseorang menjadi cacat bukan karena fisiknya saja, tapi konstruksi sosial yang menyebabkan seseorang merasa tidak bisa berbuat apa-apa.
Bilic memberi perhatian pada individunya sekaligus pada keluarga. Kedua-duanya diberikan pemahaman melalui konseling. Bagi si individu, konseling diberikan melalui peer conseling, konseling yang dilakukan oleh sesama penyandang cacat.
Kami berikan pemahaman tentang kesamaan latar belakang dan perlakuan, sehingga mereka bisa mengetahui siapa dirinya dan bagaimana lingkungan telah membentuk dirinya. Selanjutnya kami ajak mereka mulai berani mengungkapkan kebutuhan mereka dan mulai mandiri untuk melakukan kegiatan.
Memang benar ada kesulitan yang terus membayangi peran penyandang cacat. Ada lingkaran kemiskinan yang sulit untuk diputus. Kawan-kawan penyandang cacat sulit memiliki pekerjaan. Sekalipun ada lahan pekerjaan, tapi masalah formal ijazah kadang pun menjadi masalah. Rata-rata pendidikan mereka terbatas sampai SD atau SMP. Sistem tidak melihat potensi yang dimiliki.
Sementara itu, untuk keluarga memang agak lebih hati-hati. Memang masih jarang peran keluarga yang bisa menanamkan kepercayaan diri kepada anaknya. Hal Ini barangkali karena informasi dan layanan yang sangat terbatas.
Misalnya, ada seorang ibu yang anaknya menjadi cacat tidak tahu bagaimana mencari informasi tentang itu. Nah, kalau dia datang ke dokter untuk terapi artinya harus mengeluarkan biaya yang besar. Dan itu merupakan halangan bagi sebagian keluarga untuk tidak melanjutkan pencarian informasi dan layanan.
Bagaimana dengan Peraturan Daerah (Perda) Perlindungan Khusus Penyandang Cacat Oktober 2006, apakah menurut Anda bisa memutus lingkaran tadi? Apa pendapat Cucu tentang hal ini?
Secara pribadi saya pesimistis. Ini maaf-maaf saja ya. Kita sudah punya banyak UU dan peraturan pemerintah tentang penyandang cacat, tapi mana implementasinya. Perda yang ada sekarang juga cuma mencuplik dari peraturan yang sudah ada bukan?
Sebenarnya masalah kecacatan berkaitan dengan semua hal, seperti, pendidikan, ketenagakerjaan, perhubungan, informasi, dan komunikasi. Kalau kita bicara inklusi, maka masukkan saja soal penyandang cacat ke semua peraturan yang sudah ada. Perda itu kan hanya pembuktian di atas kertas saja berdasarkan tuntutan. Sekarang sih kami menunggu implementasinya saja.
Bilic ada keinginan untuk membuat badan usaha ekonomi sendiri, yang bisa mengatasi masalah materiil penyandang cacat. Ada pikiran membuat travel agent yang sekaligus menyediakan informasi tentang aksesibilitas dan pendampingan advokasi. Hal ini, berangkat karena mereka yang melakukan perjalanan seringkali mendapatkan diskriminasi.
Hal itu, berkaitan pula dengan konsep ideal dari Center for Independent Living. Idealnya tidak hanya memberikan layanan konsultasi, tapi juga menyediakan transportasi aksesibel. Juga ada peran advokasi yang mesti pula dilakukan.
Februari 8, 2009 at 7:11 am
penyandang cacat selama ini masih terpinggirkan dalam kehidupan masyarakat. untuk itu perlu upaya semua pihak baik itu pemerintah, NGO yang peduli dg penca, dan masyarakat untuk ikut meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan bagi penyandang cacat.