PADA 20 Januari 1961, Kennedy diambil sumpahnya sebagai Presiden AS ke-35 dan menjadi presiden termuda dalam sejarah AS. Dalam pengangkatannya sebagai presiden, Kennedy menyampaikan pidatonya yang terkenal, yang di antaranya berbunyi, “Jangan tanyakan apa yang telah dilakukan negara untuk dirimu, tetapi tanyakan apa yang telah kamu lakukan untuk negaramu.”

Dua puluh tahun kemudian, tepatnya 20 Januari 1981, seorang anak bernama Arifiyanto Said lahir di Klaten Jawa Tengah. Ia anak yang lahir dari kalangan keluarga yang cukup unik. Bapaknya senang mengumpulkan barang bekas.

Arif muda sering memerhatikan kebiasaan neneknya yang mengumpulkan rongsokan. Saat itu, ia melihat bagaimana perjuangan neneknya dengan barang bekas berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

Lalu ia memerhatikan pula kebiasaan ayahnya yang gemar mengumpulkan barang bekas di gudang rumah. Malah ayahnya pernah berucap bahwa besi-besi yang menopang fondasi rumahnya berasal dari besi bekas yang berserakan di jalan.

Pidato Kennedy memang bukan topik utama saat kelahiran Arifiyanto. Akan tetapi, semangat dalam pidato Kennedy sepertinya telah merasuk ke benak Arifiyanto sejak ia lahir. Semangat itu lahir karena berkaca pada kebiasaan keluarga besarnya yang mengganggap sesuatu benda bekas bukan sebagai sampah, tetapi sebagai barang itu masih memiliki nilai.

Barang bekas memiliki nilai ekonomis, tetapi barang bekas juga menjadi beban lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Ia menjadi bomerang bagi kehidupan manusia karena bisa menimbulkan bencana.
Misalnya, barang-barang sisa yang teronggok di pinggir jalan bisa menimbulkan bau dan pemandangan yang tidak nyaman. Barang-barang bersifat basah, seperti sisa makanan, membuat bau, sedangkan yang bersifat kering, seperti, kertas, plastik, kaleng, mengganggu pandangan mata ketika di jalan.

Arifiyanto muda memutuskan berkelana. Ketika kuliah baru memasuki semester 4, ia mulai perjalanan ke Leuwigajah, Kota Cimahi. Ia kesal karena lembah yang tadinya indah itu harus menjadi korban sampah orang kota. Kekesalan itu makin jadi ketika dua tahun setelah kunjungannya, tempat pembuangan akhir (TPA) Leuwigajah longsor dan mengubur orang.

Keinginan mempelajari tentang pengelolaan sampah membawanya mendatangi sebuah keluarga di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Lalu ia teruskan ke Solo Baru, Sukaharjo, Jawa Tengah. Di tempat ini ia magang memilah-milah sampah plastik.

Selama jalan-jalan ini praktis urusan kampus keteteran. Akan tetapi, itu pilihan sadar yang sudah diambil Arifiyanto. Orang tuanya juga hanya berkomentar, do it what you like (lakukan apa yang kamu mau lakukan-red.).

“Mungkin karena bawaan dari keluarga juga sehingga aku mulai akrab dengan persoalan-persoalan sampah,” katanya.

Keakrabannya dengan sampah lantas membawanya terbang ke negeri Jerman, pada tahun 2004. Dengan disponsori oleh perusahaan Bayer, Jerman, ia jalan-jalan sekaligus mengamati proses pengelolaan lingkungan dan sampah di Sungai Rhein. Ia habiskan waktu seminggu di negeri yang pernah terbelah hancur karena perang itu.

Pulang dari Jerman, Arifiyanto punya inisiatif untuk mempraktikkan ilmunya di Kota Bandung. Ia memulai projek pertamanya, di Cibeunying Kaler, pada tahun 2004. Ia berinisiatif mengajak warga untuk mengadakan sebuah kegiatan pengolahan sampah rumah tangga. Sejak 2004, ia mulai bergerilya mencari tempat yang mau menerima ide pengelolaan sampah.

Kampus kali ini bertemu dengan pemuda berambut keriting berkacamata minus ini di sebuah kamar kos yang lumayan lebar walaupun ada bagian yang kena rembesan air hujan. Letaknya berada di pusat kota, tepatnya di Jln. Siti Munigar, Astanaanyar, Kota Bandung. Berikut petikan obrolan Kampus dengannya.
Ito (sapaan akrab Arifiyanto).

Apa yang akan dilakukan untuk Hari Lingkungan Hidup tahun ini?
Aku anggap tiap hari adalah hari lingkungan hidup. Begitu pula dengan peringatan hari-hari lainnya. Setiap hari kita harusnya mengelola lingkungan agar lebih sehat dan nyaman.


Karena itu, apa yang sedang kamu lakukan saat ini?
Masih berkaitan dengan sampah. Soalnya, ini kan sudah bawaan dari masih bayi. Kamu pernah melihat pengelolaan sampah di Jerman. Apakah cara yang sama bisa diterapkan di Indonesia?
Jerman bagus, tetapi masih jauh untuk bisa diterapkan di Indonesia. Ada kendala yang substansial sehingga sulit untuk diterapkan. Salah satunya instrumen hukum kita, terutama dalam penegakan hukumnya. Misalnya, jumlah penduduk dengan jumlah penegak hukum tidak proporsional.


Menurut kamu, sebenarnya seperti apa konsep yang tepat dalam pengelolan sampah kita?
Jadi, konsepnya harus terdesentralisasi. Konsepnya dengan pengelolaan di lingkungan rumah tangga. Ini bisa mengurangi beban TPA.


Omong-omong, kamu sering pindah kos dan di tempat kamu tinggal, lalu kamu buat program pengelolaan sampah. Apa saja yang kamu buat?
Pengomposan. Konsep ini berhasil di RT 4 RW 1 Kelurahan Nyengseret, Astananyar, Kota Bandung. Tapi, satu bulan terakhir itu berhenti. Alasannya, mulai banyak warga yang protes karena baunya.


Kalau begitu, kamu sering berhadapan dengan warga yang tidak terima dengan konsepmu?
Berhadapan sih tidak. Tapi itu risiko yang bisa terjadi dan saya pikir kita bisa menghadapinya dengan dialog.

Dalam pandangan orang-orang, anak muda adalah generasi dinamis yang lebih suka senang-senang. Tapi itu tidak semua. Ito adalah salah satu kawan Kampus yang mencurahkan perhatiannya pada kegiatan sosial kemasyarakatan.

Ito sendiri merasa apa yang dilakukan bukan untuk mencari pujian. Akan tetapi, memang bukan pujian yang datang kepadanya, namun pengakuan sebagai generasi yang kreatif. Hal itu diakui oleh sekretaris RW 1 H. Zaenal Abidin dan Staf Bidang Lingkungan RW 1 H. Nandar.

Kedua orang paruh baya ini sama-sama mengakui jarang menemukan anak muda yang seperti itu. Dari sekian banyak generasi muda yang tinggal di RW 1, baru Ito yang mau bergulat dengan belatung dan air lindi yang panas.

Ito datang ke tiap daerah itu hanya dengan ilmu pengetahuan dan niat. Tidak ada uang satu karung untuk dibagi-bagikan sebagai modal program penyehatan lingkungan. Ia lebih sering mengadakan kegiatan itu berdasarkan swadaya masyarakat.

Menurut kamu, apakah uang menjadi syarat utama keberhasilan programmu?
Aku tidak memungkiri uang itu perlu. Tapi itu bukan segala-galanya. Orang dilahirkan dengan akal.


Tapi kalau sedang kesulitan dana bagaimana menanganinya?
Aku punya tim. Tim punya peran masing-masing untuk mencari bantuan. Tapi saya lebih sering mendapati keinginan swadaya masyarakat. Memang, sih kadang itu juga mentok.

Tapi kamu optimis?
Ya! Hal penting adalah kita bisa menjaga napas kita agak tidak tersengal-sengal. Kegiatan seperti ini butuh waktu. ***

*Dimuat di Pikiran Rakyat, 7 juni 2007