“…Di negerimu
kini telah menyingsing fajar peradaban baru
jangan tunggu, ambil posisimu
proklamasikan kembali kemerdekaan negerimu”
-Mustofa Bisri- Selama Ini di Negerimu, 1998.
ESOK hari, negeri ini akan merayakan hari jadinya yang ke-62. Pejabat tinggi dan masyarakat umum sudah berbenah. Mereka menambahkan atribut merah putih dan sederet bunga di teras dan sisi-sisi ruangan gedung pemerintahan dan lingkungan rumah warga.
Seperti yang terjadi tahun-tahun lalu, hari jadi kemerdekaan diramaikan oleh beragam perlombaan dari balap karung, panjat pinang, sampai kontes menyanyi lagu-lagu kemerdekaan. Panggung rakyat yang dibumbui vokal dangdut juga mulai berdendang di sudut kota, kampung, dan desa.
Sementara itu, tidak sedikit dari kawan kita yang memberi makna kemerdekaan pada tindakan-tindakan nyata. Kreasi mereka terselip di antara kisruh perdebatan tentang siapa calon pemimpin negeri di masa mendatang atau di antara wacana perdebatan perubahan. Kreasi-kreasi mereka ini bisa jadi tafsir dari anjuran generasi muda untuk memberi makna terhadap kemerdekaan.
Cinta desa
Gunung Wayang, gunung dengan ketinggian 2.182 meter, merupakan sumber mata air utama Sungai Citarum. Luas seluruh daerah aliran Citarum kurang lebih 6.080 km2 dan panjangnya dari hulu di Gunung Wayang sampai bermuara di Tanjung Karawang, kurang lebih 270 km. Dari kehidupan air ini, kebutuhan listrik Jawa-Bali berlangsung.
Di pangkuan Gunung Wayang, terdapat tiga desa, yakni Desa Cibeureum, Tarumajaya, dan Cikembang. Tiga desa ini berada di bawah kekuasaan administratif Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Lahan di daerah ini subur karena debuan geologis hasil pelapukan magma memberikan unsur hara yang kaya. Kesuburan ini memberi berkah bagi investor agrobisnis. Akan tetapi, akibat lain muncul dari pengelolaan bisnis sayuran itu. Kasus perambahan hutan membuat wajah Gunung Wayang memperlihatkan kegersangan.
Dadan Ahmad Hamdani, salah satu anak yang lahir di pangkuan Gunung Wayang tiga puluh tahun lalu, lantas tidak rela gunungnya botak sehingga tidak memberi manfaat apa-apa bagi kehidupan warga desa. Kawan yang menyelesaikan kuliahnya di Sekolah Tinggi Agama Islam Baitul Arqom, Ciparay, Kabupaten Bandung, ini lantas memfokuskan diri pada perjuangan mempertahankan lingkungan. Perjuangan mempertahankan lingkungan ini berada dalam suatu konsep besar tentang rasa cinta terhadap desa.
Dadan tidak sendirian. Sejak tahun 2000, dia bertemu dengan pemuda-pemuda desa lainnya yang menaruh pada minat yang sama. Lalu mereka bersama-sama mendirikan Radio Komunitas Citra Gunung Wayang, sebagai sarana komunikasi dan informasi bagi masyarakat. Selain itu, ada pula organisasi Pecinta Alam Wanapasa yang fokus pada isu yang sama.
Profil masyarakat di kecamatan ini ada petani penggarap, petani kecil, dan petani besar. Sebagian besar tamatan SD dan SMP. Radio komunitas yang mereka dirikan, lantas menawarkan konsep penataan hutan yang bermanfaat bagi petani di kawasan tersebut. Konsep hutan hijau itu dilakukan dengan membuat pembagian pertanian terasering dan penanaman pohon-pohon keras yang berbuah.
Fokus pendidikan tentang lingkungan ini tidak berhenti pada generasi petaninya saja. Dadan dan teman-temannya pun memiliki jadwal untuk mendidik anak-anak di SD dan SMP. Pendidikannya mengarah pada pemupukan rasa cinta kawan belia itu untuk mencintai kekayaan lokal mereka.
“Banyak orang tua yang mengganggap pendidikan tidak memberi manfaat apa-apa. Oleh karena itu, kami mengajak anak-anak membuat kreativitas sesuai dengan alamnya,” kata kawan yang sempat kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, kepada Kampus.
Pendidikan yang memberi ruang lebih pada kreasi di Kecamatan Kertasari itu seperti, penyemaian tanaman, peternakan kambing, dan pengelolaan sampah. Aplikasi ini dilakukan pada jam-jam kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
“Kami tanamkan bahwa jangan cuma bisa menebang, tetapi tidak bisa menanam. Harus bisa menanam juga!” ujar pegiat di Pusat Sumber Daya Komunitas (PSDK) Kabupaten Bandung ini, tegas.
Namun, kabar buruk sempat menimpa komunitas ini. Sekelompok pencuri telah mengambil peralatan radio komunitas itu. Sekarang radio tidak bersiaran dulu, tetapi bukan berarti penyebaran informasi dan pendidikan berhenti. Dadan lantas berjalan-jalan ke pelosok kampung untuk ngawangkong (mengobrol santai-red.). Komunitas ini juga berencana membuat buletin kecil sebagai media alternatifnya.
Perpustakaan
Buku, kita tahu bersama sebagai media pencerdasan bangsa. Buku memberi banyak informasi kepada kita tentang segala macam pengetahuan. Namun, akses terhadap buku semakin hari semakin sulit karena harganya yang relatif tak terjangkau dan kesadaran membaca yang juga kurang.
Akses terhadap buku di lembaga pendidikan pun kadang kurang diperhatikan. Di SD Neglasari, Desa Cikuda, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, ruang perpustakaannya bercampur dengan ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) seluas 1,5 x 5 meter. Koleksi bukunya masih cetakan kurikulum 2004.
Himpunan Mahasiswa Informasi dan Perpustakaan (Himaka) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran melalui program pengabdian masyarakat bernama Himaka Library Care, lantas membenahi perpustakaan di SD tersebut.
Ketua Himaka, Taufik Hidayat mengatakan, kegiatan ini dimulai pada September 2006. Selain memperbaiki bentuk fisik perpustakaan, kegiatan lain adalah mengembangkan koleksi buku. Buku-buku lama diganti dengan buku terbitan kurikulum terbaru sumbangan donatur dan World Book Day. Jumlahnya kira-kira 350 eksemplar dengan jenis, seperti, buku cerita anak, pengetahuan umum, majalah anak, dan buku pelajaran lainnya.
Selain perbaikan fisik, Himaka melakukan pendampingan sampai dengan Mei 2007 guna melatih manajemen koleksi. Misalnya, menyederhanakan klasifikasi model Dewey Decimal Code (DDC) dengan kertas-kertas berwarna Pelatihan ini menghasilkan pustakawan cilik berusia kelas 5 dan 6 SD.
“Kita masih datang untuk mengamati perkembangannya. Sekaligus belajar bersama seperti membacakan cerita, bikin drama, dan pembacaan puisi,” kata mahasiswa angkatan 2005 ini.
Himaka Library Care bertujuan agar setiap desa memiliki akses perpustakaan. Rumah Belajar Mandalawangi, Desa Mandalawangi, Kabupaten Bandung merupakan wujud dari tujuan itu. Mereka menyulap ruangan bekas kantor desa berukuran 5 x 6 meter. Mereka tidak sendiri, tetapi bersama remaja-remaja desa.
Perpustakaan ini berisi 600 koleksi buku bermacam-macam judul dan klasifikasi. Kegiatan di rumah ini, seperti, bimbingan belajar pada remaja desa yang kebanyakan jebolan SD. Waktunya seminggu sekali.
Selama ini, Himaka mencari tahu daerah dengan fasilitas minim perpustakaan berdasarkan informasi dari mahasiswa, yang kebetulan tinggal di desa tersebut atau sedang melakukan kuliah kerja nyata (KKN). Sementara itu, untuk kawasan Bandung dan Jatinangor mereka melakukan survei sendiri.
Mereka tidak hanya memberi fasilitas, tetapi bersama-sama membangun fasilitas tersebut sehingga bermanfaat. Kurun waktu pendampingan tidak pernah dibatasi, bergantung pada kesiapan yang telah dimiliki oleh pelaku lokalnya. Setidaknya, ada tujuh mahasiswa yang biasanya rajin mendampingi di dua tempat tadi.
Potensi tunanetra
Jika kemerdekaan berarti setiap orang berhak menampilkan karya, potret kawan-kawan di Panti Wiyataguna ini bisa memberi gambaran bahwa cacat penglihatan tidak menghalagi potensi diri. Sebuah buletin bertajuk Geliat Insan Tunanetra (Gita) sudah beredar sebanyak 4 edisi. Ini bukan buletin untuk konsumsi kawan tunanetra, namun buletin yang dibuat oleh mereka untuk konsumsi orang bermata awas. Oleh karena itu, huruf teksnya bukan huruf braile melainkan huruf alfabet biasa.
Setidaknya, ada enam orang kawan tunanetra yang menjadi jurnalis buletin ini. Mereka mencari berita, menulisnya dalam huruf braile lalu dialihkan menjadi huruf awas dengan perangkat lunak George atau biasa disebut komputer bicara. Setelah dicetak, mereka lantas membagikannya ke beberapa tempat seperti di kampus Universitas Islam Bandung (Unisba).
“Kawan-kawan ini memang memiliki kemampuan menulis, jadi sayang jika tidak dikembangkan,” kata Desi Darfiani, seorang reader (sukarelawan pendamping belajar) yang menjadi salah satu inisiator buletin ini.
Nah, inilah sebagian kisah dari mereka yang berkreasi nyata menuju fajar perubahan baru yang telah merekah. Mengisi kemerdekaan bukan slogan setahun sekali. Namun, berkreasi nyata membangun masyarakat yang terpinggirkan.***
agus rakasiwi
Maret 26, 2008 at 12:27 pm
Hallo, met kenal. Ga sengaja nyasar ke blog ini, waktu nge-test search di google tentang “Geliat insan tunanetra”. Makasih atas ulasannya. Mangga mampir ke Blog GITa. Semoga jadi awal perkenalan yang baik.
Btw boleh link back ga? Isi testi di shout box yah!
Trims