Kawan saya yang juga senior saya di Pikiran Rakyat, romannya sih tidak menunjukkan kegelisahan atau kekesalan. Padahal dia sudah satu minggu ini tidak punya pekerjaan yang pasti di koran terbesar di Jawa Barat tersebut.

Ya, dia baru saja dicopot dari jabatan sebagai redaktur suplemen budaya Khazanah PR, seminggu lalu. Dia dicopot karena memuat sajak berjudul “Malaikat” karya Saepul Badar. Sajak itu, membuat geer kaum reaksioner yang mengatasnamakan agama Islam. Katanya, puisi itu mengejek sisi iman orang Islam yang percaya pada malaikat.

Tindakan mereka, menurut Saepul, sampai sering datang ke rumah dan marah-marah dihadapan Saepul. Tidak cukup dengan datang, sms dan telepon tak jelas identitas kerap mampir ke telepon pribadi Saepul. Edan ga sih?

Belum ada penelaahan tafsir. Dan lagi pula tafsir terhadap puisi tidak harus sama setiap orang. Tapi perbedaan tafsir bukan berarti berujung untuk menentang pikiran seseorang. Memang siapa mereka yang bisa menentang pikiran orang.

Kadang saya malu menjadi orang Islam. Bukan malu memiliki agama Islam. Menjadi orang Islam di Indonesia saat ini malah memiliki imej sebagai tukang teror, tukang hajar privasi orang lain, tukang demo sambil merusak milik publik, dan segala macam cara untuk memberi cap bahwa merekalah makhluk suci dihadapan Tuhan.

Kok Islam jadi berangasan kaya gitu ya? Apakah Orang Islam tidak pede dengan jati diri mereka sehingga mempergunakan segala cara demi nama penegakan syariat agama?

Saya jadi tidak habis pikir….kadang saya malu menjadi orang Islam.