Tanah tidak untuk mereka yang duduk

Ongkang-ongkang menjadi gemuk

Dua baris kalimat itu menjadi pembuka pementasan teater berjudul “Bicaralah Tanah”. Teater ini diproduksi oleh Teater Studio Indonesia bekerjasama dengan Konsorsium Pembaharu Banten, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang melakukan advokasi terhadap petani dan nelayan.

Awas Kau Tuan Tanah!Cerita dalam teater ini berlatar belakang peristiwa heroik Geger Cilegon pada tahun 1888. Peristiwa Geger Cilegon merupakan wujud perlawanan kaum petani yang dikomandani KH. Wasid. Ini adalah contoh bagaimana para petani marah dan melakukan perlawanan terhadap penindasnya.BIcaralah Tanah

Teater dengan menggunakan media tanah sebagai panggung ini bermula dari cerita pemerintah kompeni yang meminta semua kerbau yang berpenyakit dimusnahkan. Para petani menolak dan meminta pemerintah menyediakan obat-obatan untuk kerbau mereka. Tapi, penguasa berdalih penyakit kerbau tidak bisa diobati.

“Sudah lebih baik dimusnahkan saja toh pemerintah sudah menyediakan ganti ruginya,” ujar penguasa.

 

“Dimana ganti ruginya. Kami tidak pernah menerima ganti rugi!” kata petani menimpali.

Cerita kesengsaraan berlanjut dengan nilai pajak tinggi yang diminta dari petani, bencana letusan gunung Krakatau, dan kasus-kasus kriminal seperti penyiksaan, penganiayaan, dan pemerkosaan. Alur penderitaan itu melahirkan adegan protes. Bermodalkan parang dan pacul para petani menyerbu markas penguasa. Tapi, mereka mati di ujung senapan.

Cerita tadi makin mencekam saat suara benturan parang dengan besi pacul. Adegan ini tidak sekali sehingga penonton yang duduk pada barisan depan menutup kuping dan mata mereka. Selain tak kuat dengan bunyi melentingnya, mereka pun takut terkena serpihan logam hasil benturan tadi.

Tekanan psikologis itu kadang menurun ketika dialog antar petani dalam format keragaman bahasa. Gaya aktor yang membawakan logat Betawi, Cina, Sumatera Utara, Cirebon, dan Banten kerap mengundang decak tawa.

Teater yang digelar di aula Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung juga sarat dengan budaya lokal. Misalnya, alunan musik tradisi yang berasal dari calung renteng dan angklung mengiringi nyanyian rakyat Rajah Lutung Kasarung, sebuah folklore untuk mengusir bahaya.

”Saya bukan hanya menyutradarai pemain tapi juga penonton. Bantingan-bantingan yang mencekam dan mengganggu membolehkan penonton pindah dan menyelematkan diri. Itulah menonton yang tidak biasa,” ujar Ndg. Aradea.

Isu Tertindas

Rambut panjang sebahu, tubuh tinggi besar yang dibalut kaos dan celana agak ketat adalah tampilan fisik yang mudah terlihat dari sosok Ndg. Aradea. Tapi, setelan nyentrik itu sebenarnya memiliki misteri dalam pikiran dan tubuhnya.

Postur tinggi besarnya sekilas memperlihatkan kegagahan. Tapi siapa sangka ia sudah melakukan cuci darah sejak akhir tahun 2005 lalu. Walaupun sebenarnya penyakit gagal ginjalnya sudah terjadi sejak 1993 silam.

Tapi Ndg. Aradea seperti tidak memperdulikan itu. Eksplorasi seni instalasi dan teaternya terus menjadi sejak ia belajar teater di Teater Mahasiswa IKIP Bandung (kini Lakon Teater UPI). Sejak tahun 1993-2006, sedikitnya ada delapan naskah teaternya yang dipentaskan, seperti, , Reportase Ladang-ladang, Dor, Sumur Tanpa Dasar, Indonesia Setengah Tiang, Extravaganza, Teknologi Penjara, Tengkoraksia dan Perahu.Bicaralah Tanah_2

”Dengan membuat teater tubuhku terasa lebih baik. Proses adalah terapi,” ujar suami dari Lina Susanti dalam pesan pendek yang dikirimnya kepada Kampus beberapa waktu lalu.

Dalam pertunjukkan teater, Ndg. Aradea memang tidak ingin orang membicarakan rasa letih dan pucat yang merona di wajahnya. Ia hanya ingin orang menyaksikan karyanya yang berisi pesan dan kritik sosial.

Dalam pertunjukkan Bicaralah Tanah, penonton akan menyaksikan cerita penindasan terhadap petani. Bukan sekedar mendongeng penindasan tapi kritik juga terlontar melalui ungkapan verbal dan tubuh aktor. Isu ketertindasan menjadi isu sentral yang kerap diusung Ndg. Aradea.

Teater , kata Dia, merupakan ruang representasi problematika sosial, politik, dan alam. Teater menjadi media yang memberi pendidikan untuk mengajak manusia kembali berpikir untuk menyelesaikan persoalannya. Hal ini menjadikan seni tidak hanya sebagai hiburan, tapi sebuah refleksi untuk melakukan perubahan.

Ndg. Aradea, tidak berada pada konsep ideologi kanan-kiri atau tengah. Baginya teater menjadi ruang refleksi terhadap siapapun yang tertindas. Teater menjadi ruang pendidikan penyadaran untu bagi siapapun yang merasa terdominasi dan termarginalisasi.

”Saya tidak menganut ideologi apapun. Siapapun yang tertindas harus kami bela!,” kata dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) ini.

Garapan ”Bicaralah Tanah” ini pernah dipentaskan sebanyak tiga malam di Serang, Banten. Tiap malam penontonnya terbagi strata sosialnya, tapi paling banyak adalah petani tradisi Banten. Seorang petani bernama Kholid Pontang selalu terisak dalam tangis ketika menonton pagelaran itu.

”Teater ini akan terus berkeliling mengajak orang untuk mengerti masalah petani,” katanya.

Dunia teater telah mendorongnya mendirikan kelompok teater kampus (Kafe Ide Untirta), lalu teater profesional (Teater Studio Indonesia) di Serang, Banten. Usai kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung (kini UPI), Ia melanjutkan kuliah di Magistratura program studi penyutradaraan di Russian Academy of Art Theatre (GITIS) Mokswa-Rusia. Kuliahnya belum rampung tapi, sempat mementaskan dua karyanya di hadapan publik Rusia berjudul ”The Doctor” dan ’Biografi Menggoreng Batu”.

Dalam kenangan Budayawan Sunda, Godi Suwarna, Ndg. Aradea telah lama kepincut gagasan-gagasan Vsevold Emilevich Meyerhold (1874-1940), seorang dramawan Rusia. Salah satu gagasan Meyerhold adalah sikap teralienasi penonton terhadap cara berpikir umum dan masuk ke dunia alternatif penyelesaian masalah kemanusiaan.

Dalam konsep teater yang lebih ilmiah, Ndg. Aradea mengusung konsep post realism. Konsep ini mengajak penonton untuk berpikir kritis dan memberikan solusi terhadap masalah yang hadir di depannya.

Eksplorasi seninya lantas berujung pada konsep yang disebutnya ”Biomekanikal Meyerhold”. Esensi dari konsep ini adalah ruang eksplorasi aktor yang bebas. Ia tidak menghendaki gerakan yang tertata hanya saja tetap naluriah. Menurutnya, tubuh akan mengontruksi pikiran dan bukan sebaliknya.Karena tubuh akan lebih banyak merespon gejala sosial, politik, dan alam. Inilah yang Dia sebut sebagai konsep biomekanik Meyerhold.

Selain itu, ia memberi kesempatan interaksi penonton, panggung mendatar, dan teks lakon yang tidak patuh pada dramaturgi sastrawi. Menonton ”Bicaralah Tanah” maka penonton tidak akan melihat alur yang linear dan pemilahan aktor protagonis dan antagonis.

Hemat

Teater Enam Bulan di Atas Perahu adalah karya yang digarapnya di Untirta. Ini adalah teater panjang selama 6 bulan. Setiap bulannya ada lima hari masa pementasan. Untuk pementasan ini ia membutuhkan 5000 batang bambu dan menyulap ruang kosong menjadi ruang pertunjukkan pola arena.

Produksi teater Ndg. Aradea juga menganut anti pemborosan. Penggarapan teater selama 4-5 bulan tidak cukup lantas hanya ditampilkan 1-2 malam saja. Ia menginginkan produksi produksi jangka panjang, misalnya sampai 10 tahun untuk satu naskah.

Di harian ini pada 6 Maret 2003, Dia pernah menyatakan, bahwa sebuah kelompok teater punya produksi 4-5 naskah, sebenarnya sudah efektif dan hemat untuk dipentaskan. Anggap saja dalam setiap bulannya ada 2 atau 3 hari untuk pentas setiap naskah. Jika Ini dirancang untuk pementasan 5-10 tahun maka biaya artistik panggung, latihan, promosi hanya butuh dikeluarkan dalam produksi awal saja. Untuk selanjutnya paling tinggal biaya promosi.

“Saya ingin melihat aktor saya pada pertunjukkan 5 tahun mendatang dalam naskah ‘Bicaralah Tanah’. Mungkinkah ada pengembangan eksplorasi?” ujar kawan dosen yang berencan menuju Cina untuk mencangkok ginjalnya ini.

agus rakasiwi

kampus_pr@yahoo.com