Kota adalah seorang ibu, dari rahim siapa Lahir dirimu yang kedua. Sekali kau pernah mengembara di sana, bagai urat di tapak tangan kauhafal silangan segala gangnya. Sekali kau bersatu dengan suka dukanya, dan dia selamanya akan hidup di darahmu.
-Saini K.M- Kota Suci, 1968
Seorang kawan mengidam-idamkan foto-foto dengan latar belakang halaman muka Gedung Merdeka. Katanya, foto itu akan bagus jika ada latar belakang sebuah gedung yang dibangun dengan gaya arsitektur art-deco yang banyak berkembang pada tahun 1920-an.
Kampus memikirkan apa yang dikatakan kawan tadi sebagai romantisme masa lalu. Keinginan untuk ikut merasakan keindahan dan kemolekan kota dengan bentuk-bentuk bangunan megah berupa pilar-pilar besar seperti di Gedung Merdeka.
Titik Nol
Kampus akan ajak kawan untuk mengikuti jejak kejayaan Bandung itu. Kampus mengajak Tubagus Adhi, pegiat Bandung Heritage dan Bandung Trails, menemani tur keliling pusat kota ini.
“Oke, kalau mau jalan-jalan di kota Bandung kita harus mulai dari titik nol,” katanya, “Karena dari sinilah denyut pembangunan kota dimulai.”
Lalu kami berdua menuju titik nol di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Barat. Di depan kantor, terdapat tugu peringatan Kilometer Bandung “0.00” (KM. BD 0.00). Tugu itu berupa mesin gilas yang meratakan dan mengeraskan jalan.
Letak titik nol ini di Jln. Asia -Afrika. Dulu jalan ini merupakan jalur Jalan Raya Pos Anyer-Panurukan yang dibangun oleh Gubernur Jenderal, Mr. Herman Willem Daendels, Sang Tuan Besar Guntur. Jalan ini panjangnya 1000 km dan selesai pada tahun 1809.
Menurut cerita, usai Daendels meresmikan pembangunan jembatan Cikapundung bersama bupati Bandung , keduanya berjalan ke arah timur sampai di suatu tempat. Di tempat itu Daendels menancapkan tongkat seraya berkata: “Zorg, dat als ik terug komhier een stad is gebouwd!” (“Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangup!”).
Menurut tulisan Sejarahwan Universitas Padjadjaran, Sobana Hardjasaputra, Bupati R.A. Wiranatakusumah II tidak memilih pembangunan kota pada titik yang ditunjuk oleh Daendels. Bupati telah memilih tempat di sebelah barat Sungai Cikapundung.
Raden Asik Natanegara melalui tulisannya yang dimuat dalam Volks Almanak Soenda 1938 menginformasikan, bahwa pindahnya ibukota Kabupaten Bandung ke Kota Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Kabupaten Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit (surat keputusan) tanggal 25 September 1810.
Homann
Selanjutnya kami berjalan ke arah Barat dan mengamati Hotel Savoy Homann. Sejak tahun 1870, wajah rumah bilik berubah menjadi tembok. Pemilik hotel ini adalah keluarga Homann, keluarga Jerman yang pindah ke Bandung pada tahun 1870.
Hotel ini dibangun dengan gaya art-deco yang banyak berkembang pada tahun 1920-an. Beberapa perubahannya, seperti, ornamen kaca patri dan penggantian mebel serta kap lampu. Hotelnya makin cantik dengan gaya garis-garis horizontal karya arsitek AF. Aalbers pada tahun 1937.
Hotel yang saat ini 89 persen sahamnya dimiliki Grup Bidakara, pernah menjadi tempat Kongres Teh Sedunia dan Kongres Ilmiah Pasifik IV. Dan paling istimewa adalah menjadi tempat inap peserta Konferensi pertama Asia-Afrika pada tahun 1955.
Sebelumnya, di arah timur, ada Hotel Grand Prenger. Hotel ini adalah gabungan Hotel Thiem dan toko yang dikelola C.P.E Loheyde pada tahun 1856. Lalu diambil alih oleh W.H.C van Deeterkom pada 1897. Olehnya bangunan terpisah itu disatukan dengan gaya Indische Empire Stijl. Lalu tahun 1919-1929, bangunan ini dibangun ulang oleh arsiteknya C.P. Wolff Schoemaker dan juru gambarnya Soekarno. Gayanya Art Deco perpaduan Eropa dan Timur.
Gedung Merdeka
Di sebelah kiri ke arah barat Hotel Homann, ada bangunan tua yang tak terawat. Bangunan yang dibangun 1895 itu adalah bangunan sudut yang memiliki menara. Zaman itu bernama “de Vries”, toko serba guna. Bangunan ini sekarang kosong tidak difungsikan apa-apa.
Di seberang jalan ada toko apotik kimia farma yang dibangun pada 1902. Toko ini terletak di persimpangan Jln Asia-Afrika dan Braga . Bangunan ini punya kaca-kaca besar yang konon sebagai etalase barang-barang dagangan.
Masih di kawasan persimpangan, berdiri sebuah bangunan yang memiliki pamor di dunia. Namanya Gedung Merdeka. Dulu gedung ini bernama Societeit Concordia, perkumpulan orang-orang Eropa. Gedung ini berfungsi sebagai tempat hiburan yang pernah dijadikan Gedung Tonil Braga. Tempat ini eksklusif hanya untuk orang-orang Eropa atau non Eropa yang sudah dipersamakan dan para pemuka masyarakat. Orang-orang berpangkat rendah apalagi pribumi tidak boleh masuk sini.
Bangunan ini punya ruang bawah tanah yang dulu dipakai sebagai tempat parkir sepeda. Sisa ruang parkir itu masih bisa dilihat sekarang ini. Ruang bawah tanah ini sekarang cuma berfungsi gudang. Tapi menurut seorang penjaga, ruang ini pernah jadi kamar tahanan anggota Partai Komunis Indonesia .
Gedung Merdeka atau Societet Concordia kalinya pada tahun 1895. Pembangunan gedung tersebut terakhir dilakukan dengan rancangan yang dibuat oleh dua orang arsitek berkebangsaan Belanda bernama Van Gallen Last dan C.P. Wolff Schoemaker. Keduanya adalah Guru Besar pada Technische Hogeschool, yaitu ITB sekarang.
Gedung ini kini menjadi museum dan perpustakaan. Tapi, koleksi bukunya baru 10 ribu judul. Ade, pustakawan honorer perpustakaan Gedung Merdeka, mengatakan ada sebagian buku-buku tua dan tebal hilang dicuri.
Alun-alun
Kami lanjutkan perjalanan ke kawasan Alun-alun. Alun-alun (City central square) merupakan pusat sebuah kota tradisional Indonesia . Cikal – bakalnya mulai muncul semenjak pembangunan ibukota kerajaan terbesar Majapahit, Trowulan, pada abad ke – 14. Alun-alun Bandung dibangun sekitar tahun 1811, segera setelah pemindahan ibukota dari Krapyak ke Cikapundung.
Bupati Bandung membangun mesjid di tengah-tengah Alun-alun. Mesjid Agung itu dibangun 1811 dengan atap rumbia. Setelah kebakaran tahun 1825, mesjid ini lalu diperbaiki. Berkali-kali diperbaiki hingga sekarang sudah memiliki halaman luas dan dengan lahan parkir bawah tanah.
Zaman kolonial, di kawasan Alun-alun, Belanda menambahkan pula beberapa elemen yang lain: sebuah benteng (loji) di sisi utara, sebuah penjara, kantor pos, kediaman resmi Asisten Residen, serta barak militer di arah barat.
Menurut penulis buku Bandung, Kilas Peristiwa di Mata Filatelis; Sebuah Wisata Sejarah, Sudarsono Katam Kartodiwirio, Alun-alun sudah tidak punya symbol kekuasaan pemerintahan kota . Walaupun masih ada bangunan Pendopo, tiap harinya kawasan ini padat oleh lalu lintas dan pedagang kaki lima .
Banceuy ke Braga
Dari Alun-alun kami menuju ke arah Banceuy. Menyeberang jalan melalui jembatan penyeberangan antara Kantor Pos dan toko baju yang dulu bernama Hotel Suarha. Bau pesing dan sampah bersatu.
Kami melewati bangunan berteralis besi di tiap jendelanya. Bangunan itu dulu bernama Bank N.I Escompto Mij.
Gedung ini dibangun dengan gaya Art Nouveau yang kaya dengan dengan ornamen penghias gedung. Gedung ini punya menara jam kembar. Di bagian belakang gedung ini masih ada istal kuda. Sekarang istal itu dipakai untuk parkir mobil dan kantin pegawai bank. Hanya saja bangunannya nyaris rubuh.
Lalu kami melewati pertokoan Banceuy. Sudah banyak yang tahu kan di tempat ini ada tugu Penjara Soekarno. Sayangnya, tugu di tengah mal ini tak terawat karena sering bau pesing dan sebagai tempat jemur pakaian. Padahal di sini Soekarno menulis pidato pembelaannya yang terkenal berjudul Indonesia Menggugat.
Penelusuran lalu melewati toko-toko elektronik dan hiasan lampu di Jln. Banceuy hingga kami sampai di rumah Pak Widyapratama, pemilik Paberik Kopi Aroma. Pabrik dan tokonya susah terlihat karena banyak pedagang kaki lima menutupinya.
Pak Widya adalah generasi kedua yang mengelola pabrik ini. Ayahnya, Tan Houw Sian, merintis sejak 1930. Pada 1936 Houw Sian sudah mampu membeli mesin pengolah buatan Jerman merek Probat. Mesin itu masih terpakai hingga sekarang. Bisnis kopi keluarga Widya masih mempertahankan warisan Houw Sian. Tradisi itu adalah tradisi menyimpan dulu kopi selama beberapa tahun sebelum diolah. Biji kopi jenis Robusta disimpan selama 5 tahun, sedangkan jenis Arabika disimpan dulu selama 8 tahun.
“Biji kopi seperti ini sudah turun kadar asamnya sehingga bisa diminum oleh siapapun, Setelah digiling orang darah tinggi juga bisa minum kopi lagi,” katanya, “Saya bikin kopi bukan mengejar untung tapi kualitas.”
Satu jam kami mengobrol dengan Pak Widya hingga pada detik ia kedatangan banyak pelanggan. Usai pamitan dengan Pak Widya, kami lalu berjalan menyusuri Jln. Naripan hingga berada di perempatan Braga (Bragaweg) dengan Naripan. Di sebelah kanan jalan ada beberapa tempat yang punya sejarah.
Bangunan ketiga dari Gedung Merdeka ada gedung yang tak terawat.
Bangunan kosong yang berhadapan dengan pertokoan Sarinah itu adalah toko baju mode dan pakaian, Modemagazijn “Au Bon Marche ”. Ini adalah salah satu toko baju yang terkenal di Jln. Braga tempo dulu. Di seberangnya ada bangunan yang tertutup seng dan tanaman pagar melebihi dua meter. Dulu ini Hotel Wilhemina dibangun pada 1926. Bangunan dengan gaya art deco geometric ini merupakan tempat para pelancong menginap karena posisinya yang strategis.
Eksplorasi Braga kita akan menemukan dua rumah makan yang terkenal. Sumber Hidangan dan Braga Permai. Di sini kita bisa menemukan makanan-makanan dengan nama Belanda yang pantang pakai obat pengawet.
Sebenarnya masih banyak cerita lain yang berkaitan dengan Bandung tempo dulu, tapi akan memakan halaman koran lebih banyak lagi. Namun, dari perjalanan yang Kampus dan Adhi lakukan tercatat banyak pelajaran seperti, arsitektur dan penataan kota yang bisa dipelajari.
Tentang penataan kota, misalnya, jika kita perhatikan antara ruas Jalan Braga sampai ke Balai Kota Bandung. Seolah seperti garis lurus dengan tambahan cabang-cabang seperti gereja Bethel (protestan) dan Kathedral (Katholik). Lurus dari Balai Kota ada Bank Indonesia. Di seberang bank ada kantor urusan perijinan (sekarang factory outlet).
Dulu ada cerita bahwa ketika pedati pengangkut kopi melewati Jalan Raya Pos, lalu belok ke Braga , mereka akan menyimpan kopinya di Gudang Kopi (sekarang Balai Kota). Setelah juragan kopi mendapat uang, ia akan gereja untuk menyumbang. Lalu pergi ke bank untuk menyimpan uang. Kalau masih ada urusan perijinan yang belum selesai ia akan menyeberang jalan ke kantor urusan perijinan.
Urusan itu beres, barulah mereka jalan-jalan ke Braga . Lewat pertama toko buku Van Dorp (sekarang gedung Landmark), hingga sampai ke Societeit Concordia di persimpangan Jalan Raya Pos dan Braga . Bukankah itu sebuah penataan yang rapi?
agus rakasiwi
Agustus 23, 2007 at 12:24 pm
Kang Agusnews,
Kumaha Bandung Utara….
Disana sudah banyak bangunan tua yang hancur dan hilang. Satu hal yang penting adalah Bandung juga menjadi rumah kediaman pembesar Hindia Belanda. Kalau Jakarta tuh Old Batavia sekitar Jalan Pos dan Nieuw Batavia di sekitar Menteng…
Dibuat ulasannya dong…. ditunggu
Agustus 26, 2007 at 8:03 am
Menarik. Apalagi kalo disertai gambar. Kapan-kapan pengen juga nelusurin rute dari cerita ini. Gw udah 2 tahun di Bandung tapi dikit banget yang gw tahu. Oh iya, gw pernah dengar ada hotel yang punya restoran berputar. Itu di daerah mana ya? Tergolong aset lama bukan? Kalau bisa, tolong kasih informasi tentang itu.
September 7, 2007 at 9:59 am
Betul di Bandung utara yang masihhangat diperbincangkan adalah Gedung Isola (vila Isola). Nah ini memang yang pernah menjadi tempat pembesar Belanda. Sekarang lagi diperebutkan antara Museum Nasional dengan pihak Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Kalau tidak salah, hotel yang memiliki restoran berputar adalah hotel Panghegar, bandung.
September 12, 2007 at 9:20 am
Mas Agus, ada foto2nya nggak? Lebih terbayang kalau ada fotonya hehehe (ya iya lah ya…)
September 17, 2007 at 5:27 am
Waduh belum bisa upload foto euy. Keberatan….hahahahaha
Oktober 1, 2007 at 8:16 am
senang juga nyasar kesini…jadi nambah info ihwal bdg
Juli 5, 2008 at 9:25 am
bung agus yang budiman, bahas juga donk pohon2 yang semakin edan di tebang sama pemerintah…kalo mau liat beberapa fotonya dan ulasan singkat bisa klik bandungtanpapohon.blogspot.com, ngambil foto dari blog ini juga boleh…gratis, seperti ongkos parkir pejabat!!!
Juli 5, 2008 at 9:36 am
oh…ini toh blognya agus rakasiwi yang terkenal sebagai seorang risikawa itu…..hehehe
di link ka netvibes urangnya…nuhun