Kota Bandung nan jelita, menarik hati siapa saja
Gemerlap menyala tiada tara…
Memang nyata, indah lestari,
Bandung
, kota nan asri
Lirik itu adalah “lagu sanjungan” buat Kota Bandung Tempo Doeloe. Kuncen Bandung, Haryanto Kunto memulai pendahuluan dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe dengan mengambil lirik lagu yang dipopulerkan Rara Sulastri pada 1933.
Bait terakhir dari lirik tadi sepertinya memang patut kembali ditanyakan. Bukan ditanyakan kepada si pencipta lagu, tapi pada orang-orang Bandung yang kini hidup di tahun 2007. Betulkan Bandung kota nan asri?
Orang Bandung yang tinggal di pertengahan abad 19 sampai awal abad 20, masih bisa merasakan cuaca udaranya yang sejuk di sepanjang hari, bangunan dengan gaya arsitektur art deco berdiri sesuai peruntukkannya, dan lalu lintas yang tidak padat kendaraan.
Tapi kini perhatikan Kota Bandung di abad 21. Kemajuan teknologi sudah mampu membuat orang pergi ke luar angkasa, kota Bandung malah masih sibuk dengan urusan banjir, lalu lintas yang tiap hari macet, penataan kota yang semrawut dan masih banyak persoalan kota lain yang membuat halaman koran tidak henti bertanya, kenapa?
JIka kita melongok kembali ke pertengahan abad 19 dan awal abad 20, kolonial Belanda memang punya cukup kesalahan karena menyiksa orang Bandung untuk kerja paksa. Didiskriminasi sebagai warga kelas tiga yang tidak boleh minum kopi di sekitar Societet Concordia (sekarang Gedung Merdeka).
Tapi, ada pengetahuan pula yang pernah mereka tinggalkan. Misalnya, jika kita berbicara tentang bangunan. Bandung bisa dikatakan berbeda dengan kota-kota lain dari sisi bangunan-bangunan yang dibangun semasa kolonial. Di kota ini tumplek tumblegh bangunan bergaya arsitektur mulai dari gaya Art Nouveau (dibawa oleh arsitek P.A.J. Moijen sekira tahun 1905) dan Art Deco yang lebih fungsional (setelah tahun 1920-an).
Lalu jalur transportasi rel kereta api yang menghubungkan Bandung dengan Batavia yang dibangun 17 Mei 1884. Dan, system penataan gorong-gorong yang mencegah Bandung dari banjir cileuncang.
Namun, apakah karena itu peninggalan kolonial sehingga perlu diluluhlantakkan? Sejarawan dari Universitas Padjadjaran, Sobana Hardjasaputra, menyebutkannya sebagai salah satu alasan. Alasan lain yang lebih mendasar adalah perihal kesadaran.
Kesadaran bisa dikatakan suatu tahapan diri untuk belajar membebaskan diri dari ketidaktahuan adalah jalan menuju keberhasilan. Dalam kasus Bandung, kesadaran terhadap sejarah bisa bermakna upaya untuk mengambil nilai-nilai positif suatu gejala, atau kondisi yang telah terjadi.
Hilangnya sebuah kesadaran bisa dilihat dari luluh lantaknya bangunan tua dan berubah fungsi menjadi mal. Sebagai contoh bangunan bekas tempat urus ijin di seberang Bank Indonesia, yang menjadi factory outlet. “Ini memang karena kesadaran sejarah itu kurang,” katanya.
Potret lain yang ironis adalah penempatan leluhur kota di Jln. Dalem Kaum di gang selebar dua meter, diantara mal dan pedagang piringan cakram ilegal. Bahkan papan petunjuk di pintu masuknya saja kalah mentereng dibanding papan nama sebuah rumah makan. Inikah kota nan asri?
agus rakasiwi