Agustus 2007


Dari jam tiga siang sampai jam 8.30 malam, si bulan tidak kunjung bertamu ke rumah ku. kemana saja dia? Biasanya dia sudah nongkrong di atas rumah tiap jam 6 sore. Tapi hari Selasa (28/8) kemarin, nggak nongol seperti biasa.

(lagi…)

!7 Agustus bendera merah putih berkibar dimana-mana. Di kota, desa, kampung, gampoeng, nagari, sampai dusun di pedalaman hutan dan gunung semua orang Indonesia tahu tanggal itu berarti Indonesia berulang tahun.  Semua orang tahu pada jam 10 pagi, meriam berdentum, bedug bertalu, dan lonceng gereja berdentang 17 kali. Semua orang pun menyematkan kehormatan, kebanggaan di dada mereka.

Hari itu semua orang merdeka. Tidak ada pekerjaan yang mereka lakukan di kantor, tidak ada bos yang memerintak mereka membuat kopi. Presiden juga tidak menyuruh menterinya rapat kabinet. Pokoknya Merdeka!

Satu hari yang membahagiakan untuk berkumpul di tengah lapang. Adu tangkas dalam arena balap karung, adu cepat memakan kerupuk, dan adu kekuatan memanjat pohon pinang yang berlumur oli. Satu hari yang menyenangkan untuk joget bersama penyanyi dangdut nan seksi. Satu hari tanpa emosi, marah, dengki, frustasi dan depresi. Pokoknya bahagia!

Tapi kita memang cukup bahagia, senang, dan merdeka satu hari saja. Satu hari cukup untuk istirahat dari pekerjaan, stres, depresi, dan frustasi 365 hari. Setelah itu, mari pusing kembali. Pokoknya pusing!

Di Samarinda, orang sudah susah membeli minyak goreng. Di Bekasi orang susah mendapat minyak tanah. Di Jawa Barat, harga sembako melonjak naik. Orang lapar tetap saja lapar. Gelandangan tetap tidur di pinggir toko. Pelacur tetap saja menari di atas kenikmatan semu. Tetap saja susah!

Toh kemerdekaan cuma ritual satu hari. Cuma untuk mengenang mereka yang berdarah-darah kala revolusi fisik. Cuma untuk terkagum-kagum dengan pemimpin yang berani lantang mengatakan kata “Merdeka”.

Setelah satu hari, kita terpenjara lagi. Senyum ringai berganti dengan nafas kecut. Urat jidat kembali menegang.

Hidup Ilusi kemerdekaan!

SELAMAT datang ke Kota Bandung. Kawan, tidak rugi datang ke kota ini, karena segala kebutuhan dari mulai buku, makanan, dan fashion tumpah ruah di kota ini. Karena itu, Kota Bandung punya banyak citra, mulai dari sebagai kota pendidikan, kuliner, sampai pusat mode.

(lagi…)


“…Di negerimu
kini telah menyingsing fajar peradaban baru
jangan tunggu, ambil posisimu
proklamasikan kembali kemerdekaan negerimu”

-Mustofa Bisri- Selama Ini di Negerimu, 1998.

(lagi…)

Kawan saya yang juga senior saya di Pikiran Rakyat, romannya sih tidak menunjukkan kegelisahan atau kekesalan. Padahal dia sudah satu minggu ini tidak punya pekerjaan yang pasti di koran terbesar di Jawa Barat tersebut.

Ya, dia baru saja dicopot dari jabatan sebagai redaktur suplemen budaya Khazanah PR, seminggu lalu. Dia dicopot karena memuat sajak berjudul “Malaikat” karya Saepul Badar. Sajak itu, membuat geer kaum reaksioner yang mengatasnamakan agama Islam. Katanya, puisi itu mengejek sisi iman orang Islam yang percaya pada malaikat.

Tindakan mereka, menurut Saepul, sampai sering datang ke rumah dan marah-marah dihadapan Saepul. Tidak cukup dengan datang, sms dan telepon tak jelas identitas kerap mampir ke telepon pribadi Saepul. Edan ga sih?

Belum ada penelaahan tafsir. Dan lagi pula tafsir terhadap puisi tidak harus sama setiap orang. Tapi perbedaan tafsir bukan berarti berujung untuk menentang pikiran seseorang. Memang siapa mereka yang bisa menentang pikiran orang.

Kadang saya malu menjadi orang Islam. Bukan malu memiliki agama Islam. Menjadi orang Islam di Indonesia saat ini malah memiliki imej sebagai tukang teror, tukang hajar privasi orang lain, tukang demo sambil merusak milik publik, dan segala macam cara untuk memberi cap bahwa merekalah makhluk suci dihadapan Tuhan.

Kok Islam jadi berangasan kaya gitu ya? Apakah Orang Islam tidak pede dengan jati diri mereka sehingga mempergunakan segala cara demi nama penegakan syariat agama?

Saya jadi tidak habis pikir….kadang saya malu menjadi orang Islam.

Tanah tidak untuk mereka yang duduk

Ongkang-ongkang menjadi gemuk

(lagi…)

Telat…ya, sepertinya telat untuk membicarakan narsis saat ini. Apalagi kalau terkait mengekspresikan diri lewat blog. Dua tahun sudah orang-orang mengenal blog, eh saya malah baru mempelajarinya waktu sekarang. Telat ga sih? hahahaha

Cuma ya ternyata bukan pada diri saya saja yang telat. Buktinya beberapa kawan di tempat nongkrong wartawan juga baru pada bikin blog. Pertanyaan sederhana tentang bagaimana membuat blog sampai hal tetek bengek ternyata masih kerap terdengar. Padahal orang-orang di sini sudah sering menulis tentang fenomen blog. Tapi ya itu, kadang rasa mencoba datang belakangan setelah membicarakan.

Ibarat komentator sepak bola, paling bisa ngomong tapi kalau disuruh maen bola ada yang tendangannya melenceng ke ruang ganti.

Itu sih wajar. Apalagi hidup di Indonesia yang banyak kata “maklum”. hahahaha

salam ah

Salah satu buktinya ia pernah keliling kota dengan celana kolor dengan tubuh berbalur cat putih. Di dadanya tergantung tulisan “Damailah Bangsaku”. Waktu itu sedang marak kampanye pemilu 1997. (lagi…)

Kota adalah seorang ibu, dari rahim siapa Lahir dirimu yang kedua. Sekali kau pernah mengembara di sana, bagai urat di tapak tangan kauhafal silangan segala gangnya. Sekali kau bersatu dengan suka dukanya, dan dia selamanya akan hidup di darahmu.

-Saini K.M- Kota Suci, 1968 (lagi…)

Kota Bandung nan jelita, menarik hati siapa saja

Gemerlap menyala tiada tara…

Memang nyata, indah lestari,

Bandung

, kota nan asri (lagi…)